JAKARTA – Insiden pelemparan petasan ke arah pemain Persib Bandung, Beckham Putra, dalam pertandingan menghadapi Persija Jakarta kembali menyoroti persoalan keamanan dalam pertandingan sepak bola Indonesia.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa penggunaan benda berbahaya di area stadion masih menjadi tantangan yang harus ditangani secara serius.
Selain berpotensi mengganggu jalannya pertandingan, pelemparan petasan ke arah pemain juga dapat membahayakan keselamatan orang yang berada di lapangan.
Pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung sendiri berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Sabtu (12/9/2026). Berdasarkan jadwal resmi kompetisi, pertandingan dimulai pukul 15.30 WIB.
Petasan Dilarang dalam Kode Disiplin PSSI
Penggunaan petasan sebenarnya telah diatur secara jelas dalam Kode Disiplin PSSI.
Pasal 70 menyebut perilaku buruk penonton sebagai pelanggaran disiplin, termasuk penggunaan benda yang mengandung api atau dapat menyebabkan kebakaran seperti kembang api, petasan, bom asap, dan suar.
Aturan tersebut juga mencakup pelemparan benda atau misil serta tindakan lain yang dapat mengganggu keamanan pertandingan.
Klub tuan rumah atau pihak yang ditunjuk sebagai penyelenggara pertandingan turut memiliki tanggung jawab terhadap perilaku buruk penonton.
Dalam Kode Disiplin PSSI 2023, sanksi untuk penggunaan benda yang mengandung api juga telah ditentukan.
Denda sekurang-kurangnya Rp50 juta berlaku untuk satu sampai lima kali penyalaan, Rp100 juta untuk enam sampai sepuluh kali penyalaan, dan Rp200 juta untuk lebih dari sepuluh kali penyalaan.
Sanksi dapat diperberat apabila pelanggaran melibatkan pemain, ofisial, perangkat pertandingan atau orang lain yang berada di pertandingan, maupun apabila terdapat korban atau kerusakan akibat tindakan tersebut.
Sanksi Administratif Perlu Diikuti Pengawasan
Adanya aturan dan sanksi menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keamanan pertandingan. Namun, efektivitasnya tidak hanya bergantung pada besaran denda.
Pengawasan sebelum dan selama pertandingan, pemeriksaan terhadap barang bawaan penonton, serta respons cepat ketika terjadi pelanggaran juga menjadi bagian penting dalam mencegah benda berbahaya masuk ke stadion.
Terlebih, apabila benda yang dilemparkan mengarah langsung kepada pemain, persoalannya tidak lagi sekadar pelanggaran terhadap tata tertib penonton. Tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko keselamatan bagi pemain dan perangkat pertandingan.
Karena itu, setiap insiden perlu ditindaklanjuti berdasarkan regulasi yang berlaku dengan mempertimbangkan tingkat pelanggaran dan dampak yang ditimbulkan.
Rivalitas Persija dan Persib Perlu Diikuti Keselamatan
Pertandingan Persija dan Persib merupakan salah satu duel dengan rivalitas tinggi dalam sepak bola Indonesia. Tingginya antusiasme suporter membuat aspek keamanan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pertandingan.
Rivalitas seharusnya tetap berada dalam batas dukungan terhadap tim. Penggunaan petasan, pelemparan benda, maupun tindakan yang membahayakan pemain justru dapat merugikan klub dan suporter itu sendiri.
Kode Disiplin PSSI bahkan memungkinkan sanksi diperberat apabila pelanggaran dilakukan secara berulang atau memiliki dampak yang lebih serius.
Posisi Ferry Paulus dan Isu Konflik Kepentingan
Sorotan terhadap PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga tidak terlepas dari posisi Ferry Paulus sebagai Direktur Utama. Ferry sebelumnya memiliki hubungan erat dengan Persija.
Ketika ditunjuk sebagai Direktur Utama PT LIB pada November 2022, Ferry menyatakan mundur dari jabatan Direktur Olahraga Persija untuk menghindari potensi konflik kepentingan. PT LIB juga mencatat keputusan tersebut dalam hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
Pada saat itu, Ferry mengakui dirinya masih berstatus sebagai pemegang saham Persija. Ia menyatakan kepemilikan tersebut tidak menjadi masalah karena dirinya sudah tidak terlibat dalam operasional klub.
Namun, informasi mengenai kepemilikan saham tersebut berasal dari pernyataan Ferry pada 2022. Karena itu, status kepemilikannya pada 2026 perlu dikonfirmasi kembali sebelum dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya konflik kepentingan saat ini.
Ketegasan Operator Jadi Sorotan
Insiden yang melibatkan pemain dalam pertandingan Persija vs Persib kembali menempatkan aspek penegakan disiplin sebagai perhatian publik.
PT LIB dan PSSI memiliki tantangan untuk memastikan setiap pelanggaran diproses berdasarkan aturan yang berlaku, tanpa membedakan klub yang terlibat.
Ketegasan tersebut penting untuk menjaga kepercayaan terhadap kompetisi sekaligus memastikan keselamatan pemain, ofisial, dan penonton.
Pada akhirnya, rivalitas dalam sepak bola tidak seharusnya mengorbankan keselamatan.
Penegakan regulasi yang konsisten, pengawasan yang lebih ketat, serta keterlibatan kelompok suporter dalam menciptakan budaya pertandingan yang aman menjadi bagian penting untuk mencegah insiden serupa kembali terjadi.***