JATENG – Faiz Alfarizi (26 tahun) merupakan salah satu putra daerah yang tak melupakan kampungnya. Merantau untuk menimba ilmu di Jurusan Budi Daya Perikanan di Politeknik Ahli Usaha Perikanan Jakarta, Faiz mantap untuk kembali ke Kebumen, Jawa Tengah, kampung halamannya.
Gayung bersambut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah memperkuat sektor perikanan nasional melalui proyek percontohan Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen. Proyek ini menjadi salah satu kawasan budi daya udang terintegrasi terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 100 hektare.
BUBK Kebumen tidak hanya dirancang sebagai model percontohan budi daya modern berbasis teknologi presisi, tetapi juga hadir membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat pesisir. Kehadiran fasilitas terpadu ini menjadi wadah bagi generasi muda terdidik asal daerah seperti Faiz untuk menyalurkan keahliannya di sektor perikanan, sekaligus memperkuat perekonomian keluarga di tanah kelahiran.
Usai menuntaskan studinya, Faiz memilih pulang kampung dan bekerja di BUBK Kebumen. Selain sesuai dengan jurusan yang dia ambil saat studi, bekerja di kampung halaman juga menjadi tujuannya agar tetap bisa dekat dengan keluarga.
“Waktu saya selesai kuliah, kebetulan di sini ada lowongan pekerjaan. Kemudian saya apply, alhamdulillah diterima. Tentunya saya ingin bekerja dekat dengan orang tua, supaya bisa menjaga dan membantu mereka,” ungkap Faiz.
Keputusan Faiz untuk kembali ke daerah disambut penuh rasa syukur oleh keluarganya yang sehari-hari berdagang sembako. Kepulangan Faiz memberikan kehangatan dan ketenangan tersendiri bagi orang tua yang kini bisa melihat kehidupan dan aktivitas sang putra dari dekat.
“Orang tua tentu senang karena bisa melihat dan dekat dengan anaknya. Pesan orang tua yang selalu saya ingat adalah bekerja yang semangat, giat, disiplin, dan taat kepada peraturan,” kenang Faiz.
Membangun Tanah Kelahiran Sekaligus Mandiri Finansial
Langkah ini juga sekaligus membuktikan konsistensi minat Faiz yang telah menekuni bidang perikanan sejak duduk di bangku SMK Perikanan hingga ke bangku kuliah. Menepis stigma umum anak muda yang rata-rata ingin bekerja di ibu kota, memprioritaskan pekerjaan kantoran di depan layar, Faiz merasa bangga dapat terjun langsung ke lapangan memanfaatkan ilmunya.
“Karena memang saya dari SMA juga di (jurusan) perikanan, kemudian kuliah di perikanan juga. Tentunya kalau saya bekerja di perikanan ini hal yang membanggakan. Sekolah saya tidak sia-sia,” tuturnya.
Meski bertugas penuh sebagai teknisi budi daya lapangan di BUBK Kebumen, jarak yang dekat memungkinkan Faiz untuk tetap rutin pulang ke rumah seminggu sekali. Pekerjaan di BUBK Kebumen kini memberikannya kemandirian finansial untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu ekonomi orang tua.
“Dampak positifnya selain dekat dengan orang tua, saya sudah memiliki penghasilan sendiri, bisa mandiri, dan sedikit-sedikit membantu orang tua,” tambah Faiz.
Ke depan, Faiz optimistis bahwa kepulangannya ke daerah bukan membatasi kesempatan berkarier, melainkan ruang nyata untuk berkontribusi bagi perikanan nasional. Ia berharap BUBK Kebumen dapat terus bertransformasi menjadi kawasan budi daya modern yang inovatif dan menjadi percontohan di dunia.
Kisah kehangatan keluarga dan dedikasi Faiz Alfarizi dalam mengelola tambak udang modern BUBK Kebumen dapat disaksikan selengkapnya hanya dalam program Podcast Sinergi Indonesia di YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI