BANTEN — Aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih terpantau saat status gunung api di Selat Sunda itu berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat empat aktivitas gempa dalam periode enam jam pada Jumat (11/9/2026).
Pengamatan dilakukan pada pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, instrumen pemantauan merekam sejumlah jenis kegempaan, mulai dari gempa low frequency, gempa hibrid atau fase banyak, gempa vulkanik dalam, hingga tremor yang berlangsung secara terus-menerus.
Badan Geologi mencatat satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 34 milimeter dan durasi enam detik. Selain itu, terjadi satu kali gempa hibrid atau fase banyak dengan amplitudo 11-23 milimeter dan durasi 8-11 detik. Nilai S-P pada gempa tersebut tidak teramati.
Aktivitas lainnya berupa satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 41,3 milimeter, S-P 0,8 detik, dan durasi 13 detik.
Sementara itu, pemantauan juga merekam tremor menerus atau microtremor dengan amplitudo berkisar 1-8 milimeter. Aktivitas tremor tersebut didominasi amplitudo pada skala 2 milimeter.
Di tengah aktivitas kegempaan tersebut, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau pada periode pengamatan dilaporkan cerah hingga berawan. Angin bertiup sedang ke arah barat laut.
Namun, kondisi visual tubuh gunung api belum sepenuhnya dapat diamati karena tertutup kabut tebal. Badan Geologi juga menyebut asap kawah tidak teramati selama periode pemantauan.
“Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin sedang ke arah barat laut,” demikian laporan resmi Badan Geologi yang diterima pada Jumat (11/9/2026).
Status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga. Seiring dengan kondisi tersebut, Badan Geologi mengingatkan masyarakat maupun wisatawan agar tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Larangan tersebut berlaku bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki. Mereka diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
“Rekomendasi masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif,” imbau Badan Geologi.
Dengan masih berlakunya status Siaga dan adanya aktivitas kegempaan yang tercatat dalam periode pemantauan, kawasan sekitar kawah aktif tetap menjadi area yang harus dihindari sesuai rekomendasi Badan Geologi.