JAKARTA – Polemik suksesi Keraton Surakarta kembali menjadi sorotan nasional setelah dua putra Paku Buwono XIII masing-masing mendeklarasikan diri sebagai PB XIV dan memicu kebingungan publik mengenai legitimasi tahta.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa pemerintah berharap kisruh ini dapat diselesaikan secara damai dan cepat demi menjaga stabilitas budaya serta kredibilitas Keraton Solo sebagai pusat warisan nasional.
Fadli mengingatkan bahwa pada 2017 Sinuhun Pakubuwono XIII dan Panembahan Agung Tedjowulan pernah mencapai kesepakatan damai yang menjadikan Tedjowulan sebagai tokoh dituakan dalam penyelesaian konflik internal.
“Jadi, menurut saya, Tedjowulan bisa menjadi figur yang dituakan untuk memimpin perembukan itu,” katanya, Selasa (25/11/2025).
Menurut Fadli, rekam jejak Tedjowulan itu menjadi landasan kuat bagi upaya mediasi antara dua kubu keluarga kerajaan yang kini saling mengklaim posisi tertinggi di Keraton Solo.
Ia menekankan bahwa perebutan tahta tidak seharusnya diperpanjang karena Keraton Surakarta merupakan simbol sejarah yang harus dijaga bersama oleh negara dan keluarga kerajaan.
Menbud mengungkapkan rencana pemerintah untuk mengirimkan surat resmi kepada keluarga besar Keraton Solo guna mendorong musyawarah internal yang dapat menghasilkan solusi pemersatu.
Fadli juga menyoroti pentingnya revitalisasi keraton sebagai pusat kebudayaan agar keberadaannya tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat Solo dan Indonesia.
Ketua Kadin Solo, Ferry Indrianto, turut mengingatkan bahwa ketidakpastian status kepemimpinan keraton dapat menahan laju pembangunan ekonomi daerah.
“Kepastian adalah modal utama pembangunan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kesolidan internal keraton akan menghadirkan kepastian hukum, meningkatkan kepercayaan publik, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif di Kota Solo.
Pada akhirnya, Ferry menilai bahwa stabilitas Keraton Surakarta akan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, sektor usaha, pelaku pariwisata, dan kawasan Solo Raya.
“Inilah yang dibutuhkan Keraton Surakarta hari ini, sebuah kerangka kepastian,” ucapnya.
Ferry menambahkan bahwa keberpihakan semua pihak pada nilai kebenaran merupakan kunci agar keraton dapat kembali memainkan peran strategisnya dalam kehidupan sosial dan budaya Jawa.***