BOGOR – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis jangka panjang negara untuk memutus kemiskinan struktural sekaligus menyiapkan sumber daya manusia unggul menyongsong Indonesia Emas 2045.
Penegasan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan taklimat dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026) sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan kebijakan prioritas nasional.
Prabowo menekankan bahwa MBG adalah wujud kehadiran konkret negara dalam menjamin hak paling dasar rakyat, khususnya anak-anak dan keluarga prasejahtera, agar tumbuh sehat dan berdaya saing.
Ia menyatakan bahwa kemerdekaan sejati tidak akan pernah tercapai apabila negara membiarkan generasi mudanya tumbuh dalam kondisi lapar dan kekurangan gizi.
“Anak-anak kita harus makan cukup, harus sehat. Kalau mau bangsa ini merdeka dan kuat, tidak ada jalan lain selain menjamin pangan dan gizi rakyatnya,” ujar Prabowo dengan nada tegas.
Bukan Program Populis
Presiden menolak pandangan yang menyebut MBG sekadar program populis, karena menurutnya kebijakan ini dirancang sebagai instrumen terpadu yang menyentuh sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi rakyat.
Ia menjelaskan bahwa MBG secara simultan menggerakkan produksi pangan nasional, memperkuat UMKM, serta membuka pasar berkelanjutan bagi petani, nelayan, dan pelaku ekonomi desa.
Hingga awal 2026, jumlah penerima manfaat MBG telah menembus sekitar 60 juta orang, sebuah capaian yang menurut Prabowo melampaui banyak prediksi pesimistis sebelumnya.
“Tidak ada yang menyangka kita mampu. Banyak yang meramalkan pasti gagal. Tapi hari ini kita sudah mencapai 60 juta penerima manfaat,” kata Prabowo.
Menanggapi kritik soal potensi kendala teknis dan keamanan pangan, Prabowo menegaskan bahwa secara statistik tingkat insiden tergolong sangat kecil dibandingkan skala distribusi nasional.
“Kalau dibandingkan miliaran porsi makanan yang sudah dibagikan, angka masalahnya hanya 0,00 sekian persen. Artinya, 99,99 persen usaha MBG ini harus dinyatakan berhasil,” tegasnya.
Prabowo menambahkan bahwa MBG juga dirancang untuk membalik arus perputaran uang nasional agar tidak lagi tersedot ke kota besar atau luar negeri, melainkan kembali menguatkan ekonomi desa.
Melalui kemitraan dengan koperasi desa Merah Putih, petani lokal, nelayan, dan UMKM daerah, MBG diposisikan sebagai mesin ekonomi kerakyatan berbasis produksi lokal.
“Kita harus hentikan aliran uang dari desa ke kota, ke ibu kota, apalagi ke luar negeri. MBG adalah salah satu cara paling konkret untuk mengembalikan nilai ekonomi ke rakyat,” ujarnya.
Tidak Pandang Dukungan Politik
Dalam kerangka Asta Cita, MBG ditempatkan sejajar dengan swasembada pangan dan energi sebagai pilar utama kedaulatan nasional.
Prabowo menilai bangsa yang tidak mampu menjamin kecukupan pangan rakyatnya sendiri adalah bangsa yang rapuh dan mudah ditekan oleh kepentingan global.
Ia juga menepis anggapan bahwa program strategis pemerintah dijalankan berdasarkan peta dukungan politik, dengan menegaskan negara wajib melayani seluruh rakyat tanpa diskriminasi.
“Saya kalah di Sumatera Barat, saya kalah di Aceh. Tapi MBG tetap jalan di sana. Koperasi Merah Putih tetap kita bangun. Negara tidak boleh dendam kepada rakyatnya sendiri,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, setelah kontestasi politik berakhir, satu-satunya mandat pemerintah adalah bekerja untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali.
Prabowo menilai MBG sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi sehat, cerdas, dan produktif, bukan sekadar solusi kebutuhan jangka pendek.
Ia menegaskan Indonesia tidak harus menjadi negara superkaya, tetapi wajib memastikan seluruh rakyat hidup layak dan bermartabat.
“Kita tidak bermimpi muluk. Kita hanya mau semua rakyat kita hidup dengan kualitas yang baik: makan cukup, sehat, anaknya sekolah, dan punya masa depan,” ujar Presiden.
Menutup arahannya, Prabowo mengingatkan bahwa keberhasilan MBG bergantung pada disiplin, kejujuran, dan keberanian kepemimpinan di seluruh level pemerintahan.
“Kalau kita bersatu, kalau kita berani, dan kalau kita jujur, tidak ada alasan Indonesia gagal. MBG ini bukan milik Prabowo, ini milik masa depan bangsa,” pungkasnya.
Bikin Amerika Serikat Penasaran
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengungkapkan ketertarikan pejabat tinggi Amerika Serikat terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
Ia menyebut ketertarikan tersebut datang dari lingkaran kebijakan kesehatan nasional Amerika Serikat, termasuk dari lingkungan White House.
“Saya kaget sendiri, menteri kesehatan, you boleh cek, secretary of health dari Amerika Serikat, saya dapat berita, ingin jumpa dengan saya, ingin bertanya tentang MBG,” ujar Prabowo saat memberikan taklimat nasional di Bogor.
Menurut Prabowo, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa MBG dipandang sebagai pendekatan inovatif yang relevan secara global.
Ia menilai ketertarikan Washington DC menjadi bukti bahwa kebijakan pangan dan gizi Indonesia mulai diperhitungkan sebagai referensi internasional di bidang kesehatan, pendidikan, dan ketahanan ekonomi rakyat.***