JAKARTA – Nama Gunung Bawakaraeng Kembali menjadi sorotan publik karena dikaitkan dengan ajaran menyimpang Petta Bau.
Petta Bau adalah seorang perempuan yang mengklaim bahwa Gunung Bawakaraeng dapat menjadi tempat berhaji. Ia menjadi pemimpin Tarekat Ana’ Loloa di Maros, Sulawesi Selatan.
Nah, bagaimana profil Gunung Bawakaraeng?
Gunung Bawakaraeng adalah gunung berapi yang tidak aktif dengan ketinggian sekitar 2.830 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, gunung ini menjadi salah satu tujuan pendakian populer bagi pecinta alam karena keindahan alamnya yang memesona, hutan yang masih asri, dan udara yang sejuk.
Nama “Bawakaraeng” sendiri berasal dari bahasa Makassar, yang berarti “mulut Tuhan.”
Gunung ini memiliki jalur pendakian yang cukup menantang, dengan rute utama dimulai dari Lembanna, Malino.
Di puncaknya, terdapat sebuah kaldera besar yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki.
Selain itu, kawasan ini juga berfungsi sebagai daerah resapan air yang sangat penting bagi masyarakat sekitar.
Berikut ini profil detail Gunung Bawakaraeng:
1. Lokasi:
Gunung Bawakaraeng terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sekitar 90 km dari Kota Makassar. Gunung ini menjadi bagian dari Pegunungan Lompobattang.
2. Ketinggian:
Memiliki ketinggian sekitar 2.830 meter di atas permukaan laut (mdpl), menjadikannya salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Selatan.
3. Keunikan dan Sejarah:
Nama Bawakaraeng berasal dari bahasa Makassar, yang berarti “Mulut Tuhan” (Bawa = mulut, Karaeng = Tuhan).
Gunung ini dianggap sakral oleh sebagian masyarakat setempat dan sering dikaitkan dengan praktik kepercayaan tertentu.
Beberapa kelompok spiritual menganggap Gunung Bawakaraeng sebagai tempat berhaji alternatif, meskipun ajaran ini bertentangan dengan Islam.
4. Jalur Pendakian:
Jalur pendakian utama dimulai dari Lembanna, Malino, yang terkenal dengan pemandangan hutan pinusnya.
Perjalanan ke puncak biasanya memakan waktu sekitar 2-3 hari, tergantung kondisi fisik pendaki.
Gunung ini memiliki 13 pos pendakian, dengan jalur yang cukup menantang.
5. Daya Tarik:
Pemandangan alam spektakuler, termasuk hutan tropis, air terjun, dan lembah hijau.
Mitos dan budaya lokal, yang membuatnya menarik bagi wisatawan dan peneliti.
Keanekaragaman hayati, termasuk flora dan fauna khas Sulawesi.
6. Ancaman dan Konservasi:
Longsor besar pernah terjadi pada 2004, menyebabkan kerusakan parah di daerah sekitar.
Deforestasi dan perburuan liar menjadi ancaman bagi kelestarian ekosistem gunung ini.
Pemerintah dan komunitas pencinta alam terus melakukan upaya pelestarian.
Gunung Bawakaraeng adalah destinasi yang menarik, baik bagi pendaki maupun pencinta budaya.
Namun, perlu diingat untuk selalu menghormati nilai-nilai lokal serta menjaga kelestarian alam saat berkunjung.***