JOMBANG – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin kini menjadi sosok penting dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Penetapan Gus Kikin dilakukan melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin, 31 Agustus 2026.
Keputusan tersebut menjadi babak baru perjalanan Gus Kikin yang sebelumnya dikenal sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Ketua PWNU Jawa Timur.
Cicit KH Hasyim Asy’ari
KH Abdul Hakim Mahfudz lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.
Dengan demikian, Gus Kikin berusia 68 tahun pada 2026 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren.
Situs resmi Pesantren Tebuireng mencatat tahun kelahirannya 1958, demikian pula profil yang diterbitkan NU Online Jatim.
Nama Gus Kikin juga berkaitan erat dengan Pesantren Tebuireng karena ia kemudian dipercaya meneruskan kepemimpinan pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari.
Gus Kikin memiliki hubungan keluarga dengan KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng.
Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan keturunan Nyai Hj Khoiriyah Hasyim yang merupakan putri KH Hasyim Asy’ari.
Sementara ayahnya, KH Mahfudz Anwar, berasal dari lingkungan keluarga pesantren Paculgowang Jombang dan memiliki kiprah dalam pengembangan pendidikan pesantren.
Latar keluarga tersebut membuat kehidupan Gus Kikin sejak awal tidak terpisahkan dari tradisi keilmuan, pendidikan Islam dan jaringan pesantren Jombang.
Menempuh pendidikan pesantren dan formal
Pendidikan agama Gus Kikin diperoleh sejak kecil melalui bimbingan orang tuanya di lingkungan pesantren.
Ia kemudian menempuh pendidikan formal hingga melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta.
Riwayat pendidikannya menunjukkan perpaduan antara pendidikan keagamaan berbasis pesantren dan pendidikan profesional di bidang pelayaran.
Pernah berkarier sebagai pelaut
Sebelum dikenal luas sebagai pengasuh pesantren dan tokoh NU, Gus Kikin sempat menjalani dunia profesional di sektor pelayaran.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian unik dalam perjalanan hidupnya karena kariernya tidak langsung berkutat dalam organisasi keagamaan.
Setelah ulus dari Perguruan Tinggi, Gus Kikin tidak kembali ke Pesantren melainkan lebih memilih berlayar dan menjadi pengusaha sukses.
Usai menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun, ia bergabung dengan PT Djakarta Lloyd dan dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon pada 1988 di usia 30 tahun.
Selepas menjalani profesi di bidang pelayaran, Gus Kikin kemudian memperluas kiprahnya ke dunia usaha dan berbagai aktivitas profesional.
Memiliki pengalaman di dunia bisnis
Gus Kikin tercatat pernah bekerja di PT Djakarta Lloyd dan menduduki posisi kepala cabang wilayah Cilegon.
Pada 1998, ia mulai mendirikan berbagai perusahaan di Surabaya dan melebarkan ekspansinya ke Jakarta pada 2000.
Catatan menunjukkan ia mengendalikan hingga 22 perusahaan yang bergerak di bidang transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas (pinang dan minyak atsiri), hingga media penyiaran melalui PT Bama Berita Sarana (BBS Group).
Di sektor energi, Gus Kikin mendirikan PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi.
Rekam jejak bisnisnya ini menempatkannya aktif dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
Pengalaman menjadi pengusaha berskala nasional memberikan perspektif manajerial yang kuat bagi Gus Kikin, yang kelak menjadi modal utama dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
Situs resmi Pesantren Tebuireng mencatat sejumlah kiprah profesional tersebut sebelum Gus Kikin aktif sebagai pengelola pesantren.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pembeda perjalanan Gus Kikin dibandingkan tokoh pesantren yang sejak awal sepenuhnya berkecimpung dalam dunia pendidikan keagamaan.
Dipercaya memimpin Pesantren Tebuireng
Perjalanan Gus Kikin di Pesantren Tebuireng memasuki fase penting ketika ia dipercaya menjadi Wakil Pengasuh pada 2016.
Setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat pada 2 Februari 2020, Gus Kikin meneruskan kepemimpinan Pesantren Tebuireng.
Ia kemudian dikenal sebagai Pengasuh ke-8 Pesantren Tebuireng dalam sejarah panjang pesantren tersebut.
Kepemimpinan di Tebuireng menjadi modal penting bagi Gus Kikin sebelum memasuki struktur organisasi NU di tingkat regional dan nasional.
Memimpin PWNU Jawa Timur
Karier organisasi Gus Kikin semakin menonjol ketika ia dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur.
Pada Konferwil NU Jawa Timur 3 Agustus 2024, Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmah 2024–2029.
Kepemimpinan tersebut memperluas pengalaman Gus Kikin dalam mengelola organisasi NU dengan jaringan yang mencakup berbagai daerah di Jawa Timur.
Dalam menjalankan kepengurusan PWNU Jawa Timur, Gus Kikin juga menekankan pentingnya regenerasi, kaderisasi, kebersamaan dan keterwakilan daerah.
Kini menjadi Ketua Umum PBNU
Perjalanan Gus Kikin mencapai tingkat nasional pada Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Setelah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU disepakati melalui AHWA, sembilan kiai sepuh anggota AHWA melakukan musyawarah untuk menentukan ketua umum periode berikutnya.
Pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, AHWA akhirnya menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
Penetapan itu menempatkan Gus Kikin sebagai figur yang akan memimpin PBNU untuk periode lima tahun mendatang.
Usai terpilih, Gus Kikin juga menyampaikan pidato perdana dalam rangkaian penutupan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.
Rekam jejak yang berlapis
Perjalanan Gus Kikin memperlihatkan lintasan yang cukup panjang sebelum mencapai posisi Ketua Umum PBNU.
Ia tumbuh dalam tradisi keluarga pesantren, memperoleh pendidikan agama dan formal, kemudian berpengalaman di dunia pelayaran serta usaha.
Setelah itu, Gus Kikin kembali mengambil peran lebih besar dalam dunia pesantren melalui kepemimpinannya di Pesantren Tebuireng.
Pengalaman tersebut berlanjut ke organisasi NU ketika ia dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU.
Rangkaian pengalaman itu membuat profil Gus Kikin tidak hanya berkaitan dengan latar belakang nasab, tetapi juga perjalanan profesional, pengelolaan pesantren dan pengalaman organisasi.
Fokus pada pendidikan dan kaderisasi
Dalam berbagai aktivitasnya di Tebuireng, Gus Kikin menunjukkan perhatian terhadap pendidikan, pembentukan karakter santri dan penguatan nilai kebangsaan.
Pada peringatan HUT ke-81 RI, misalnya, ia mengingatkan santri agar tidak sekadar mewarisi nama besar Tebuireng, tetapi juga meneruskan ilmu, akhlak, semangat perjuangan dan tanggung jawab sosial.
Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana Gus Kikin menempatkan pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan pengabdian masyarakat.***



