VATIKAN — Misa pemakaman Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik yang meninggal dunia pada 21 April 2025, digelar di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, hari ini.
Upacara yang penuh khidmat ini dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat atau 15.00 WIB, dihadiri oleh ribuan umat serta delegasi internasional sebagai penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal dengan kesederhanaan dan kepeduliannya terhadap kaum terpinggirkan.
Misa Pemakaman yang Penuh Khidmat
Misa pemakaman dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, Dekan Dewan Kardinal berusia 91 tahun, yang juga memimpin pemakaman Paus Benediktus XVI pada 2023. Sebanyak 250 kardinal, uskup, pastor, serta biarawan-biarawati dari berbagai penjuru dunia turut hadir dalam prosesi ini. Liturgi diwarnai pakaian liturgi ungu para patriark dan kardinal, serta mitra damask putih, sementara para uskup mengenakan mitra putih polos, mencerminkan kesakralan dan kesederhanaan acara.
Prosesi ini menjadi yang pertama dari sembilan misa harian yang akan digelar di Basilika Santo Petrus hingga 4 Mei, sesuai tradisi Ordo Exsequiarum Romani Pontificis. Peti jenazah Paus Fransiskus, yang telah disegel pada Jumat malam, 25 April, ditempatkan di pelataran depan Basilika, tepat di depan altar, sebagai simbol penghormatan terakhir.
Kehadiran Pemimpin Dunia dan Umat Global
Upacara ini menarik perhatian dunia, dengan kehadiran delegasi dari lebih dari 130 negara dan organisasi internasional. Sebanyak 12 raja, 55 kepala negara, dan 14 kepala pemerintahan turut memberikan penghormatan, termasuk Presiden AS Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump, serta pemimpin Eropa seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Raja Belgia Philippe.
Ratusan ribu umat dari berbagai latar belakang budaya, sosial, dan politik memadati Vatikan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kehadiran mereka mencerminkan semangat Paus Fransiskus yang selalu menekankan, “setiap orang, setiap orang, setiap orang,” sebagai pesan inklusivitasnya yang terkenal.
Prosesi Menuju Basilika Santa Maria Maggiore
Setelah misa, peti jenazah Paus Fransiskus akan diarak sejauh empat kilometer menuju Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, tempat ia akan dimakamkan sesuai wasiatnya. Perjalanan ini akan berlangsung dengan kecepatan lambat, memungkinkan umat untuk memberikan penghormatan terakhir di sepanjang jalan.
Basilika Santa Maria Maggiore dipilih Paus Fransiskus karena makna spiritualnya. Ia sering berdoa di hadapan ikon Virgin Salus Populi Romani sebelum dan sesudah perjalanan apostoliknya. Dalam wasiatnya pada 2023, ia berpesan, “Makamku harus berada di dalam tanah, sederhana, tanpa ornamen khusus, dan hanya bertuliskan: Franciscus.”
Prosesi ini akan diiringi Paduan Suara Kapel Sistina yang menyanyikan antifon dan mazmur, menciptakan suasana khidmat. Di Basilika Liberia, peti jenazah akan disambut oleh kelompok masyarakat miskin dan terpinggirkan, yang selalu dekat di hati Paus Fransiskus selama kepemimpinannya.
Siaran Langsung untuk Dunia
Misa pemakaman disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Vatikan, memungkinkan umat di seluruh dunia turut menyaksikan momen bersejarah ini. Langkah ini sejalan dengan semangat Paus Fransiskus untuk menjangkau semua orang, tanpa memandang batas geografis.
Warisan Paus Fransiskus
Paus Fransiskus, yang wafat akibat stroke dan gagal jantung, dikenang sebagai pemimpin yang sederhana dan konsisten menggaungkan perdamaian. Ia menjadi paus pertama yang dimakamkan dalam satu peti kayu sederhana, meninggalkan tradisi tiga lapis peti mati yang mewah. Keputusannya untuk dimakamkan di luar Basilika Santo Petrus juga menegaskan kesederhanaannya.
“Dia orang yang sangat baik yang mencintai dunia,” ujar Presiden AS Donald Trump, mengenang Paus Fransiskus. “Dan dia terutama mencintai orang-orang yang sedang mengalami masa sulit. Dan ini baik bagi saya.”
Langkah Selanjutnya: Masa Berkabung dan Konklaf
Usai pemakaman, Vatikan memasuki masa berkabung sembilan hari (novendiales), diikuti dengan konklaf untuk memilih paus baru, yang dijadwalkan 15–20 hari setelah kematian Paus Fransiskus. Selama periode sede vacante, Kardinal Kevin Farrell sebagai camerlengo akan mengelola administrasi Vatikan.