JAKARTA – Pemerintahan Donald Trump menggembar-gemborkan rencana ambisius untuk membangun kelas baru kapal perang permukaan yang dipersenjatai rudal jelajah nuklir, rudal hipersonik, laser, dan meriam rel elektromagnetik. Rencana tersebut mencakup sedikitnya 25 kapal perang, masing-masing berukuran lebih besar dari kapal perusak yang ada, serta generasi baru kapal induk.
Dilaporkan Sputnik, Selasa (23/12/2025), Trump berjanji kapal perang ini akan menjadi “yang tercepat, terbesar, dan 100 kali lebih kuat” dibanding kapal mana pun yang pernah dibangun, sekaligus menghidupkan kembali platform yang dihentikan pembangunannya oleh Angkatan Laut AS sejak 1944.
Namun, sejumlah hambatan klasik kembali mencuat: biaya, kompleksitas, dan relevansi dalam peperangan modern. Hingga kini, tidak ada pendanaan dalam anggaran Pentagon untuk proyek tersebut, dan belum ada rencana teknik final. Para ahli menilai jangka waktu dua setengah tahun yang diusulkan terlalu ambisius, mengingat pembangunan kapal perang berkemampuan nuklir biasanya memakan waktu satu dekade.
Galangan kapal AS sendiri tengah menghadapi keterlambatan pada hampir semua proyek, banyak yang molor lebih dari satu tahun. Mengoperasikan armada besar dengan kapal kompleks juga akan menimbulkan biaya jangka panjang untuk pelatihan, suku cadang, dan logistik, di tengah masalah kronis seperti kekurangan tenaga kerja, infrastruktur menua, dan hambatan rantai pasokan.
Mantan pejabat Angkatan Laut memperingatkan, mempertahankan armada semacam itu berisiko menguras anggaran untuk kebutuhan lain, termasuk kapal yang sudah ada dan pesawat generasi berikutnya, kecuali jika kapal lama dipensiunkan lebih cepat.
Analis industri juga menyoroti bahwa proposal ini bertentangan dengan strategi Angkatan Laut AS terbaru, yang lebih menekankan sistem maritim kecil, tanpa awak, dan tersebar, dibanding kapal besar dengan awak dalam jumlah besar.