Jakarta – Pemerintah Indonesia mengecam keras aksi penembakan di Gereja Ortodoks Yunani Santo Georgius, Provinsi Karak, Yordania, yang menewaskan sembilan orang dan menyebabkan 25 lainnya mengalami luka-luka. Indonesia menilai serangan terhadap warga sipil di tempat ibadah tersebut sebagai tindakan brutal yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
Kecaman itu disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui pernyataan resmi di akun media sosialnya pada Senin (2/11/2026). Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kekerasan yang menyasar masyarakat tidak bersalah sekaligus mencederai kesucian tempat ibadah merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
“Pemerintah Republik Indonesia mengecam keras serangan bersenjata brutal yang terjadi di Gereja Ortodoks Yunani Santo Georgius, Provinsi Karak, Yordania, pada 23 Oktober 2026, yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka-luka,” kata Kemlu RI.
Indonesia juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk terorisme, terutama tindakan kekerasan yang menjadikan warga sipil sebagai sasaran.
“Indonesia kembali menegaskan bahwa segala bentuk tindakan terorisme dan kekerasan yang menargetkan warga sipil tidak bersalah serta menodai kesucian tempat ibadah tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, terlepas dari motif maupun pelakunya,” demikian pernyataan Kemlu.
Indonesia Sampaikan Belasungkawa kepada Keluarga Korban
Selain mengecam serangan tersebut, pemerintah Indonesia menyampaikan rasa duka dan simpati kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya. Kemlu juga mendoakan agar para korban luka segera pulih.
“Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati yang mendalam kepada keluarga korban yang ditinggalkan, serta mendoakan kesembuhan bagi seluruh korban luka,” ujar Kemlu RI.
Indonesia turut menyampaikan dukungan kepada Raja Yordania Abdullah II beserta pemerintah dan masyarakat negara tersebut dalam menghadapi situasi pascaserangan.
“Indonesia menyatakan solidaritas penuh kepada Paduka Mulia Raja Abdullah II, pemerintah, dan rakyat Yordania dalam menghadapi situasi sulit ini, serta mendukung sepenuhnya langkah-langkah tegas otoritas Yordania untuk menjaga stabilitas nasional dan menindak para pelaku,” tambahnya.
Kemlu Pantau Kondisi WNI di Yordania
Di tengah perkembangan kasus penembakan tersebut, Kemlu RI memastikan terus memantau situasi keamanan di Yordania. Melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman, pemerintah melakukan koordinasi dengan otoritas setempat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi dan keselamatan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Yordania.
“Kementerian Luar Negeri RI, melalui KBRI Amman, terus memantau perkembangan situasi secara saksama dan berkoordinasi dengan otoritas setempat guna memastikan keselamatan dan keamanan seluruh Warga Negara Indonesia di Yordania,” demikian keterangan Kemlu.
Penembakan Terjadi Saat Prosesi Pemakaman
Serangan bersenjata di Gereja Ortodoks Yunani Santo Georgius terjadi pada Jumat (23/10/2026) di kawasan Desa Hammoud, Provinsi Karak, Yordania.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah pria bersenjata memasuki kompleks gereja ketika masyarakat sedang mengikuti prosesi pemakaman. Para pelaku kemudian melepaskan rentetan tembakan yang menyebabkan sembilan orang meninggal dunia dan 25 lainnya terluka.
Provinsi Karak dikenal sebagai salah satu wilayah di Yordania yang memiliki komunitas Kristen cukup besar. Keberadaan komunitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Secara nasional, penduduk Kristen diperkirakan mencakup sekitar 2-3 persen dari total populasi Yordania.
Tiga Terduga Pelaku Ditangkap, Motif Masih Didalami
Kementerian Dalam Negeri Yordania menyatakan bahwa serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok ekstremis. Namun, otoritas setempat menyebut masih terlalu dini untuk memastikan apakah para pelaku memiliki hubungan dengan kelompok militan tertentu, baik yang beroperasi di dalam maupun luar wilayah Yordania.
Hingga perkembangan terakhir dalam laporan tersebut, belum ada kelompok yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas penembakan di gereja tersebut.
Meski demikian, aparat keamanan Yordania telah melakukan operasi gabungan dan menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Stasiun televisi pemerintah Yordania melaporkan penangkapan itu dilakukan melalui penyelidikan khusus dan operasi penggerebekan oleh aparat keamanan.
“Menyusul operasi keamanan gabungan, penyelidikan khusus dan tim penggerebekan menangkap tiga teroris yang bertanggung jawab atas serangan teroris pengecut,” demikian laporan stasiun televisi pemerintah Yordania, seperti dilansir AFP, Senin (26/10/2026).
Penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap motif penyerangan serta kemungkinan keterlibatan jaringan ekstremis lainnya.
Pemerintah Indonesia berharap otoritas Yordania dapat mengusut kasus tersebut secara menyeluruh, membawa para pelaku ke proses hukum, serta menjaga keamanan masyarakat dan stabilitas negara.