Jakarta – Penggerebekan besar-besaran terhadap jaringan peredaran narkotika di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, berlangsung pada Minggu (1/11/2026). Dalam operasi gabungan tersebut, Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) mengerahkan sebanyak 1.800 personel untuk memburu bandar narkoba sekaligus memutus aktivitas transaksi narkotika di kawasan tersebut.
Operasi yang melibatkan personel gabungan itu dilakukan melalui sejumlah jalur dan titik masuk. Salah satu cara yang menarik perhatian adalah penggunaan Kereta Rel Listrik (KRL) oleh petugas kepolisian untuk mencapai kawasan Kampung Bahari. Selain menggunakan KRL, sejumlah personel lainnya bergerak dengan kendaraan berbeda, termasuk sepeda motor.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Bismo Teguh Prakoso menjelaskan, strategi tersebut merupakan bagian dari upaya mengepung lokasi sasaran dari berbagai arah secara bersamaan. Penggerebekan melibatkan sejumlah unsur kepolisian dan lembaga terkait, mulai dari BNN, Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya hingga Korps Brigade Mobil (Brimob).
“Iya. Yang jelas kita melakukan penggerebekan dari berbagai sisi, ya. Ada dari berbagai arah, ya. Oleh karena itu kita lakukan serempak, kemudian kita berkolaborasi dengan semua pihak, dari BNN, dari Bareskrim, ya, kemudian dari Polda Metro Jaya, Brimob,” kata Bismo usai penggerebekan.
Dalam operasi tersebut, aparat mengamankan 26 orang yang diduga berkaitan dengan aktivitas peredaran narkotika. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa narkoba dari berbagai jenis, di antaranya sabu, ganja, dan ekstasi.
Meski penggerebekan telah dilakukan, Bismo mengungkapkan bahwa aktivitas transaksi narkoba ternyata masih berlangsung di sejumlah titik. Bahkan, petugas mendapati transaksi narkotika di salah satu lapak yang berada di pinggir rel kereta api.
Kondisi tersebut menjadi perhatian aparat karena lokasi-lokasi yang digunakan sebagai tempat transaksi berpotensi kembali dimanfaatkan untuk kegiatan ilegal. Oleh sebab itu, polisi berencana membongkar lapak-lapak yang disalahgunakan tersebut sekaligus melanjutkan operasi pemberantasan narkoba.
“Iya, masih (transaksi di lapak pinggir rel). Masih, masih, ya. Oleh karena itu, kita akan terus lakukan operasi ini, ya, di berbagai tempat dan juga pengejaran terhadap bandarnya,” katanya.
Bismo menegaskan, upaya pemberantasan tidak berhenti pada penangkapan orang-orang yang berada di lokasi penggerebekan. Aparat juga akan melakukan pengejaran terhadap bandar narkoba yang diduga mengendalikan jaringan peredaran di Kampung Bahari.
Dalam pelaksanaannya, petugas sempat menghadapi perlawanan dari sejumlah pihak. Namun, situasi tersebut tidak membuat aparat mengalihkan perhatian dari sasaran utama operasi.
Menurut Bismo, perlawanan yang terjadi diduga merupakan upaya mengalihkan konsentrasi petugas agar tidak fokus pada zona yang menjadi target penggerebekan.
“Perlawanan itu sebagai wujud pengalihan perhatian dari zona yang menjadi target operasi kita, ya. Tapi kita tidak teralihkan terhadap fokus dari target operasi kita,” kata Bismo.
Operasi gabungan ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan Polri dan BNN untuk menekan peredaran narkotika di Kampung Bahari. Selain mengamankan para terduga pelaku dan barang bukti, aparat juga menargetkan bandar serta lokasi yang selama ini digunakan sebagai tempat transaksi narkoba.