JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (12/10/2026), dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka pada level Rp17.890 per dolar AS, menguat 0,05 persen atau 9 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Penguatan rupiah di awal perdagangan hari ini, tidak bertahan hingga siang. Di akhir sesi pertama hari ini, pukul 12.00 WIB rupiah kembali turun ke level Rp17.910 per dolar AS, turun tipis 11 poin atau 0,06 persen.
Pada akhir perdagangan pekan lalu, rupiah bertengger di Rp17.899 per dolar AS setelah menguat 0,09 persen.
Pergerakan mata uang domestik mendapat dukungan dari pelemahan indeks dolar AS yang tercatat di level 102,13 pada pagi hari, turun sekitar 0,12 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Namun peluang penguatan rupiah masih dibayangi ketidakpastian pasar global dan potensi penguatan kembali dolar AS dalam waktu dekat.
Mengutip analisis Tim Phintraco Sekuritas, investor cenderung mengambil sikap wait and see sambil menantikan sejumlah data ekonomi penting yang dijadwalkan rilis pekan ini.
Perhatian utama pasar tertuju pada data inflasi konsumen dan produsen AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Data inflasi tersebut menjadi indikator penting bagi investor untuk memperkirakan langkah kebijakan moneter AS serta dampaknya terhadap pergerakan dolar dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, dolar AS masih memperoleh dukungan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang disebut berada di kisaran 5,23–3 persen dalam laporan sumber.
Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap terbatas meskipun indeks dolar AS mengalami koreksi pada awal perdagangan.
Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik juga menjadi sumber ketidakpastian yang dapat memicu gejolak pasar keuangan dan meningkatkan volatilitas nilai tukar berbagai mata uang.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Dengan demikian, arah rupiah selanjutnya akan dipengaruhi kombinasi pergerakan dolar AS, rilis data inflasi, ekspektasi suku bunga The Fed, serta perkembangan situasi geopolitik global.***