JAKARTA – Setelah sempat menguat di awal pekan, rupiah tertekan lagi terhadap dolar AS. Pada perdagangan Kamis (06/02/2025), nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp16.341 per dolar AS.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah melemah 48 poin atau terkoreksi 0,30 persen di pasar spot.
Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga mengalami tekanan. Mata uang yang paling terpukul adalah baht Thailand, yang anjlok 0,66 persen, diikuti won Korea yang melemah 0,54 persen.
Lalu dolar Singapura turun 0,40 persen, ringgit Malaysia merosot 0,28 persen, yuan China terkoreksi 0,27 persen, dan peso Filipina melemah 0,19 persen.
Hanya dolar Australia yang menguat tajam atas dolar AS, naik hingga 0,30 persen. Dolar Hongkong juga naik namun tidak sampai 0,1 persen.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih sulit untuk berbalik menguat dalam waktu dekat.
“Rupiah dan mata uang regional lainnya terpantau melemah pada sesi pagi ini. Rupiah diperkirakan sulit rebound berbalik menguat,” ujar Lukman, dilansir Media Indonesia.
Faktor utama yang menahan laju penguatan rupiah adalah kekhawatiran investor terhadap rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat serta laporan cadangan devisa Indonesia yang akan diumumkan pada Jumat, 7 Februari 2025.
Sebelumnya, penguatan rupiah dalam dua sesi terakhir didorong oleh meredanya kekhawatiran perang dagang global. Namun, ketidakpastian kebijakan ekonomi dan politik Presiden AS Donald Trump masih menjadi faktor yang membebani sentimen pasar.
Dengan dinamika ini, investor tetap harus mencermati pergerakan pasar global dan kebijakan ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas rupiah dalam jangka pendek.***