SURAKARTA – Program pendidikan gratis Sekolah Rakyat menjadi titik terang bagi seorang nenek lanjut usia dalam memperjuangkan masa depan anak asuh yatim piatu yang ia rawat sejak bayi.
Kisah haru ini datang dari Mbah Aina, 73 tahun, warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, yang selama belasan tahun mengabdikan hidupnya untuk membesarkan seorang anak tanpa kehadiran orang tua kandung.
Sekitar 17 tahun lalu, Aina menerima amanah mengasuh seorang bayi dari pasangan suami istri yang awalnya memberikan upah bulanan, namun kemudian menghilang tanpa kabar.
Sejak saat itu, beban tanggung jawab penuh atas kehidupan anak bernama Aditya berada di pundaknya seorang diri.
“Ibu-bapaknya Aditya tidak pernah menjenguk dari lahir,” jelas Aina, dikutip Minggu (19/4).
“Jadi mati hidupnya anak itu adalah (tanggung jawab) saya. Saya berjuang ibaratnya agar anak ini bisa hidup, bisa sehat,” imbuh dia.
Dengan kondisi ekonomi terbatas, Aina tetap berupaya menyekolahkan Aditya dari tingkat TK hingga SMP.
Penghasilannya yang tidak menentu berasal dari pekerjaan sederhana seperti memungut bunga kamboja di pemakaman dan membersihkan makam saat ada peziarah.
Keterbatasan biaya sempat membuatnya ragu melanjutkan pendidikan Aditya ke jenjang SMA.
Di sisi lain, ia tidak tega jika Aditya harus bekerja di usia muda, terlebih melihat potensi dan prestasi yang dimiliki anak tersebut.
Aditya dikenal sebagai pelajar berprestasi sejak SMP dengan berbagai capaian di bidang olahraga dan kreativitas.
Ia pernah meraih juara 2 pencak silat di ajang POPDA tingkat kota, juara 1 di kompetisi silat lainnya, serta juara 3 videografi di SMP Negeri 20 Surakarta.
Harapan baru muncul ketika Aina mendapat informasi tentang pendaftaran SMA Sekolah Rakyat 17 Surakarta saat pembagian rapor.
Program pendidikan gratis yang diinisiasi pemerintah tersebut menjadi solusi atas keterbatasan ekonomi yang selama ini menjadi kendala utama.
Awalnya Aditya sempat menolak untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.
Namun, Aina terus membujuk demi masa depan anak asuhnya yang lebih baik.
“Saya bilang, ‘Daripada kamu nak, lulus SMP masih kecil, kamu mau kerja, saya tidak tega’,” imbuh dia.
“Jadi saya bilang ‘Nak, tandatangan di sini (di formulir pendaftaran). Ini demi kamu, demi masa depan kamu’,” lanjut Aina.
Kini Aditya telah menjalani kehidupan di asrama Sekolah Rakyat dengan fasilitas lengkap yang disediakan secara gratis.
Program ini tidak hanya menyediakan pendidikan, tetapi juga tempat tinggal, makan, dan pakaian bagi para siswa.
Aina mengaku sangat terbantu karena beban finansialnya kini jauh berkurang.
Ia juga melihat perubahan positif pada Aditya yang mulai betah dan lebih fokus menjalani pendidikan.
Harapan terbesar Aina adalah melihat Aditya berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang tentara.
“Saya bilang ‘Ya alhamdulillah kalau mau jadi tentara, nak. Nanti kamu bisa ikut Pak Presiden Prabowo’.”
“Jadi saya berpesan agar menuruti semua perintah dan jangan membantah. Selain itu, saya minta dia tidak mengikuti teman-temannya jika mereka bertindak yang tidak-tidak,” imbuhnya.
Aina pun menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas hadirnya program Sekolah Rakyat yang dinilai sangat membantu masyarakat kecil.
“Pak Prabowo, terima kasih banyak Aditya bisa ikut sekolah Anda dan ikut membantu cita-citanya. Semoga terkabul cita-citanya Aditya,” harap Aina.***