Harapan publik Tifosi untuk melihat parade kemenangan Ferrari di kandang sendiri menguap hanya dalam tempo dua lap yang mengerikan di Grand Prix Italia. Bencana taktis dan benturan ego antar-pembalap menyeret Scuderia Ferrari ke dalam pusaran kritik tajam mengenai ketiadaan aturan main yang jelas di internal tim.
Mengawali balapan dari baris kedua melalui Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, asa tinggi pendukung tuan rumah seketika berubah menjadi mimpi buruk saat kedua pembalap justru saling bersenggolan di Tikungan 1. Benturan tersebut melontarkan Hamilton ke area kerikil (gravel) hingga posisinya melorot drastis ke urutan ke-10.
Penderitaan Ferrari makin sempurna ketika mobil Leclerc mendadak hilang kendali dan menghantam pembatas jalan (barriers) di tikungan Parabolica pada penghujung lap kedua. Hanya dalam sekejap, balapan paling krusial bagi pabrikan asal Maranello tersebut luluh lantak menjadi arena lelucon berbiaya mahal.
Hamilton Buka Suara: Ferrari Butuh Rules of Engagement
Rangkaian hasil minor dan miskomunikasi di Monza memicu kekecewaan mendalam bagi Lewis Hamilton. Juara dunia tujuh kali yang bergabung dengan Ferrari pada musim 2025 tersebut secara terbuka menyoroti lemahnya regulasi internal tim dalam mengatur duel antarpembalap.
“Ini bermuara pada aturan main (rules of engagement). Saat saya masih di Mercedes, kami memiliki aturan tertulis yang sangat jelas. Kami jarang sekali mengalami masalah fatal. Memang pernah ada gesekan dengan Nico [Rosberg], namun sebagian besar berjalan baik. Di Ferrari, tidak ada aturan sama sekali. Kami harus segera memberesi hal ini,” cerceh Hamilton.
Sentilan di Monza menjadi puncak kekesalan Hamilton setelah sebelumnya ia sempat meluapkan kekecewaan lewat radio tim di GP Belanda akibat keraguan strategi pit stop, serta kekacauan komunikasi saat sesi kualifikasi di Monza.
Jarak Klasemen Melebarkan Jurang, Hamilton Sebut “Sudah Terlambat”
Insiden di Monza makin mengandaskan peluang Hamilton dalam perburuan gelar juara dunia. Mengawali akhir pekan dengan selisih 59 poin dari pimpinan klasemen Andrea Kimi Antonelli, Hamilton kini makin tertinggal jauh hingga 76 poin usai hanya sanggup mengamankan posisi finish keenam.
Hamilton menilai Ferrari sudah terlambat jika baru mau menetapkan skala prioritas pembalap di sisa musim ini. Menurutnya, pembenahan harus dimulai dari level kepemimpinan tertinggi di Maranello.
“Perubahan itu pada akhirnya harus datang dari atas. Semuanya berakar dari Fred [Vasseur, Principal Tim]. Jika kita terus berjalan di jalur yang sama, kita akan terus mendapatkan hasil buruk yang sama. Kita harus mengubah prosedur kerja agar insiden serupa tidak berulang,” tegas Hamilton.
Pembelaan Fred Vasseur dan Resiko “Perang Terbuka”
Merespons kritik pedas sang pembalap, Team Principal Ferrari Fred Vasseur bergeming dan menilai terlalu dini bagi timnya untuk menerbitkan team orders sebelum balapan di Monza berlangsung.
“Jika tahun lalu McLaren mempertaruhkan segalanya hanya untuk Oscar Piastri di fase musim seperti ini, Max Verstappen mungkin sudah mengunci gelar juara lebih awal. Memang pada satu titik keputusan harus diambil, tetapi sebelum Monza itu masih terlalu dini. Sekarang kami punya waktu untuk berdiskusi,” kilah Vasseur.
Kendati Vasseur mencoba mendinginkan suasana, dinamika di Monza memperlihatkan riak ketidakpercayaan yang kian nyata di antara dua pembalap bintangnya. Dengan menduetkan dua pembalap berstatus superstar yang memiliki ego besar tanpa dibekali panduan komando yang tegas, Ferrari dinilai sedang menggali lubang masalahnya sendiri jika tidak segera mengambil tindakan disipliner.