BANTEN — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap titik kontak terakhir telepon seluler milik rombongan jurnalis dan kru kapal yang hilang di perairan Selat Sunda terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi. Data tersebut kini telah diserahkan kepada Tim SAR Gabungan untuk membantu mengarahkan pencarian.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pelacakan dilakukan dengan menggandeng tiga operator seluler. Pemantauan jaringan dilakukan melalui menara base transceiver station (BTS) yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
“Kalau di Kominfo kita sudah berkoordinasi dengan operator seluler, tiga operator seluler itu sudah mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda, baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung melalui Balai Monitoring Frekuensi yang ada di Banten dan Lampung,” ujar Nezar saat memberikan keterangan di Posko SAR Carita, Pandeglang, Sabtu (12/9/2026).
Dari pemantauan tersebut, operator seluler memperoleh data aktivitas jaringan yang kemudian diteruskan kepada Tim SAR Gabungan. Salah satu hasil pelacakan menunjukkan kontak terakhir berada di sekitar Pulau Sebesi.
“Dari opsel kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu sudah diteruskan kepada SAR dan sudah diproses berupa kontak terakhir di Pulau Sebesi itu,” kata Nezar.
Data tersebut selanjutnya menjadi salah satu acuan dalam menentukan wilayah pencarian. Tim SAR masih melakukan pengecekan dan pemrosesan informasi untuk memastikan titik-titik yang dinilai memiliki kemungkinan keberadaan kapal.
Memasuki hari kelima operasi pencarian dan pertolongan, Tim SAR Gabungan memperluas penyisiran melalui jalur laut dan udara. Sebanyak 14 kapal dikerahkan untuk menyisir kawasan perairan, sementara satu helikopter digunakan untuk mendukung pencarian dari udara.
Nezar mengatakan penentuan wilayah penyisiran dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai data yang dihimpun selama operasi, termasuk informasi mengenai titik kontak terakhir dari jaringan telekomunikasi.
“Ada 14 kapal yang bergerak dan ditambah dengan satu heli untuk mencari titik-titik yang dalam data-data yang diproses oleh tim SAR itu diduga mungkin ada potensi-potensi kapal tersebut berada,” jelasnya.
Pencarian tersebut dilakukan setelah kapal cepat atau speedboat Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Delapan orang yang berada di dalam kapal tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal. Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan pewarta foto lepas.
Sementara tiga orang lainnya merupakan awak kapal, yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) selaku anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) yang bertindak sebagai pemandu lokal.
Rombongan tersebut sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan di lapangan.
Namun, dalam perjalanan, komunikasi dengan rombongan tersebut terputus. Upaya pencarian kemudian dilakukan oleh Tim SAR Gabungan dengan memperluas penyisiran di kawasan perairan Selat Sunda.
Di tengah pencarian, informasi mengenai keberadaan rombongan juga beredar di media sosial. Nezar meminta masyarakat tidak langsung mempercayai setiap informasi yang beredar dan mengutamakan keterangan resmi dari posko pencarian.
Menurutnya, pemerintah bersama tim di lapangan terus melakukan pemantauan sekaligus mencocokkan setiap informasi yang diperoleh untuk membantu proses pencarian.
“Kita monitoring terus dan melakukan cek dan re-cek. Jadi memang sebaiknya informasi-informasi yang diterima adalah informasi resmi dari tim yang bekerja, yang mencari delapan warga yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda ini,” pungkasnya.
Nezar juga mengajak masyarakat ikut mendoakan keselamatan delapan orang yang hingga kini masih dalam pencarian. Pemerintah, kata dia, terus berkoordinasi dengan Tim SAR untuk menemukan keberadaan rombongan tersebut.
“Kita terus memantau, terus mencari, dan sama-sama kita berdoa rekan-rekan sekalian dan juga kami minta seluruh rakyat Indonesia juga mendoakan agar proses pencarian ini kita semua diberikan kekuatan dan kita bisa menemukan delapan warga kita yang sekarang berada di perairan Selat Sunda,” tutupnya.