JAKARTA — Tanggal 13 September menjadi saksi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah dunia, mulai dari tragedi bom di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang menewaskan 10 orang, serangan bom di Moskow, hingga pengesahan deklarasi PBB yang memperkuat perlindungan hak masyarakat adat.
Rangkaian peristiwa tersebut terjadi pada tahun dan tempat berbeda. Namun, semuanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang turut membentuk perjalanan Indonesia dan dunia dalam menghadapi terorisme, konflik, serta upaya perlindungan hak asasi manusia.
Salah satu peristiwa yang paling dikenang di Indonesia terjadi pada 13 September 2000. Sebuah ledakan bom mengguncang Gedung Bursa Efek Jakarta yang berada di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan.
Ledakan tersebut menewaskan 10 orang dan menyebabkan 90 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian korban meninggal dunia ditemukan di sekitar titik ledakan, sementara sejumlah lainnya berada di dalam gedung ketika insiden terjadi.
Dahsyatnya ledakan juga menyebabkan lebih dari 100 mobil yang berada di sekitar gedung mengalami kerusakan. Aktivitas perdagangan saham di bursa bahkan terhenti selama dua hari akibat kejadian tersebut.
Penghentian aktivitas perdagangan itu turut menimbulkan kerugian materiil yang ditaksir mencapai lebih dari Rp4,5 miliar.
Empat bulan setelah tragedi tersebut, aparat kepolisian menangkap enam orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Mereka yakni Ismuhadi, Ibrahim Amd, Sersan Iwan, Kopral Ibrahim Hasan, Iswadi Jamil, dan Nuryadin.
Para tersangka dituduh memiliki keterkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dalam prosesnya, beberapa di antara mereka juga tercatat sebagai anggota TNI aktif. Para terdakwa kemudian menjalani proses hukum dan dijatuhi hukuman pidana dengan vonis yang berbeda-beda.
Bom di Istana Buckingham
Jauh sebelum tragedi di Jakarta, 13 September juga menjadi bagian dari catatan Perang Dunia II. Pada 1940, serangan udara Nazi Jerman menyasar kawasan Istana Buckingham di Inggris.
Lima bom berkekuatan besar dijatuhkan di kompleks istana. Ledakan mengenai sejumlah bagian kawasan tersebut, termasuk taman dalam, kapel kerajaan, dan halaman depan.
Seorang pekerja istana dilaporkan tewas dalam serangan itu, sementara empat orang lainnya mengalami luka-luka.
Di tengah serangan tersebut, Raja George VI dan Permaisuri Ratu Elizabeth berada di kompleks istana. Keduanya diketahui sedang minum teh ketika ledakan terjadi, tetapi berhasil selamat.
Peristiwa itu menjadi salah satu catatan serangan udara yang menyasar kawasan penting Inggris pada masa perang.
Ledakan Apartemen Moskow
Catatan kelam lainnya terjadi di Moskow, Rusia, pada 13 September 1999. Sebuah bom meledak dan meruntuhkan kompleks apartemen hingga menyebabkan sedikitnya 119 orang meninggal dunia.
Pemerintah Rusia saat itu menuding kelompok pemberontak Chechnya berada di balik serangan tersebut. Namun, tuduhan itu dibantah oleh pihak pejuang Chechnya.
Mereka justru menyatakan bahwa aksi tersebut dirancang oleh dinas rahasia Rusia. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian ledakan yang mengguncang Rusia pada periode tersebut.
PBB Sahkan Deklarasi Hak Masyarakat Adat
Di tengah berbagai catatan konflik dan tragedi, 13 September juga memiliki arti penting dalam sejarah perlindungan hak asasi manusia.
Pada 13 September 2007, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP) atau Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat.
Pengesahan deklarasi tersebut menjadi hasil dari proses pembahasan panjang yang berlangsung lebih dari 22 tahun sejak draf awalnya merujuk pada Komisi Hak Asasi Manusia PBB.
UNDRIP memuat perlindungan terhadap hak individu maupun kolektif masyarakat adat. Hak yang diatur mencakup berbagai bidang, antara lain budaya, identitas, bahasa, mata pencaharian, kesehatan, dan pendidikan.
Deklarasi tersebut juga menegaskan larangan terhadap berbagai bentuk diskriminasi terhadap masyarakat adat. Di sisi lain, masyarakat adat dijamin memiliki hak untuk mempertahankan dan memperkuat kelembagaan, tradisi, serta aspirasi pembangunan mereka.
PBB melalui deklarasi itu juga mendorong negara-negara anggota memperkuat kerja sama dengan masyarakat adat dalam menghadapi berbagai persoalan global.
Upaya tersebut mencakup penguatan demokrasi multikultural, desentralisasi, hingga pembangunan berkelanjutan.
Dengan demikian, 13 September tidak hanya tercatat sebagai tanggal terjadinya sejumlah tragedi bom dan konflik, tetapi juga menjadi penanda lahirnya komitmen internasional dalam memperkuat perlindungan hak masyarakat adat.