TEHERAN, IRAN – Iran melancarkan serangan rudal bertubi-tubi ke wilayah Israel pada Selasa (24/3/2026), memicu sirene udara di sejumlah kota besar termasuk Tel Aviv. Serangan ini terjadi hanya beberapa saat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur listrik Iran.
Berdasarkan laporan yang diterima, ledakan dari sistem intersepsi rudal terdengar hingga ke pusat kota Tel Aviv. Di wilayah utara Israel, sejumlah rumah mengalami kerusakan akibat puing-puing hasil intersepsi yang berjatuhan. Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa dalam serangan tersebut.
Konflik Pernyataan antara Washington dan Teheran
Ketegangan ini bermula ketika Trump, melalui platform Truth Social, mengklaim telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan para pejabat Iran terkait upaya penghentian total permusuhan di Timur Tengah. Akibatnya, ia memutuskan untuk menunda serangan terhadap jaringan energi Iran selama lima hari. Pengumuman tersebut sempat mendongkrak harga saham dan menekan harga minyak di bawah USD100 per barel.
Namun, pernyataan Trump langsung mendapat bantahan dari pihak Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Ghalibaf, yang disebut-sebut sebagai juru bicara dalam pembicaraan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang terjadi antara Iran dan AS.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari rawa tempat AS dan Israel terjebak,” tulis Ghalibaf di akun X miliknya.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga menanggapi pernyataan Trump dengan menyebutnya sebagai “operasi psikologis” yang sudah usang dan tidak akan mempengaruhi sikap perlawanan Teheran.
Dinamika Pasar dan Diplomasi
Situasi yang saling bertentangan ini berdampak pada volatilitas pasar global. Setelah sempat mengalami koreksi, harga minyak mentah kembali melonjak. Minyak mentah Brent naik 4,2 persen menjadi USD104,21 per barel, sementara minyak mentah AS menguat 4,3 persen menjadi USD91,93 per barel.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai bahwa situasi fundamental saat ini masih sangat rapuh. “Situasi yang mendasarinya masih sangat rapuh atau mudah terbakar,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan telah berdialog dengan Trump pada Senin (23/3/2026). Netanyahu menyampaikan bahwa Israel akan melanjutkan serangan di Lebanon dan Iran, namun juga membuka peluang untuk mencapai kesepakatan.
“Trump percaya ada kemungkinan untuk memanfaatkan pencapaian besar yang diraih oleh IDF (Israel Defense Forces) dan militer AS, untuk mewujudkan tujuan perang dalam sebuah kesepakatan—kesepakatan yang akan melindungi kepentingan vital kita,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video.
Upaya Mediasi Regional
Sejumlah pihak dilaporkan terlibat dalam upaya penengah konflik ini. Seorang pejabat Eropa menyebut bahwa Mesir, Pakistan, dan negara-negara Teluk telah menyampaikan pesan antara kedua pihak. Sumber dari Pakistan bahkan menyebut kemungkinan adanya pembicaraan langsung antara AS dan Iran di Islamabad dalam waktu dekat.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan adanya inisiatif untuk mengurangi ketegangan. Disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah membahas perkembangan terkait Selat Hormuz dengan mitranya dari Oman dan sepakat untuk melanjutkan konsultasi antara kedua negara.
Krisis ini berakar pada penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran. Jalur perairan strategis ini menjadi krusial karena mengaliri sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari ini dikabarkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang.