Gelombang penolakan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, mencapai titik terpanas. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) bersiap melayangkan surat resmi untuk mencabut dukungannya dari Infantino, menyusul skandal rencana penjualan saham hak komersial kompetisi FIFA—termasuk Piala Dunia—kepada investor swasta.
Krisis kepemimpinan pria berusia 56 tahun itu kian memuncak setelah UEFA secara terbuka mengancam akan mengambil jalur hukum. Langkah Inggris ini mengekor keputusan Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW), Skotlandia, Finlandia, hingga Serbia yang telah lebih dulu menarik kepercayaan mereka dari Infantino jelang Pemilihan Presiden FIFA Maret mendatang.
Pemicu utama kekacauan ini adalah manuver FIFA yang ingin membentuk anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) guna mengelola ajang-ajang utamanya. FIFA berniat menjual saham minoritas FFE kepada investor luar, dengan konsorsium Thrive Eternal—perusahaan modal ventura AS bentukan Joshua Kushner—disebut-sebut sebagai calon investor utama.
Dugaan Politik ‘Uang Pelicin’ $40 Juta dan Gertakan UEFA
Isu ini kian memanas setelah Infantino melayangkan surat kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Dalam surat tersebut, ia menawarkan kucuran dana sebesar $40 juta (sekitar Rp650 miliar) bagi setiap asosiasi yang mendukung proposal FFE, dengan tenggat waktu persetujuan pada 19 September untuk mencairkan termin awal sebesar $20 juta.
Langkah tersebut dinilai UEFA dan Concacaf (Konfederasi Amerika Utara & Tengah) sebagai pelanggaran tata kelola (governance) yang fatal. Dalam surat peringatannya, UEFA menuntut FIFA untuk membekukan dan menyerahkan seluruh dokumen, tangkapan layar percakapan (WhatsApp, Signal, Teams), serta catatan rapat yang melibatkan pejabat FIFA terkait proyek FFE tersebut.
“Ini adalah panggilan aksi yang sangat tegas atas proses tata kelola yang sangat buruk dalam inisiatif FFE. Kita tidak bisa terus-menerus memadamkan kebakaran akibat rencana sepihak. Saya sangat berharap kita bisa memiliki kepemimpinan baru tahun depan,” tegas Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister.
Pemetaan Suara dan Potensi Pelengseran Darurat
Untuk dapat terpilih kembali untuk periode keempat (dan terakhirnya) pada Maret mendatang, Infantino membutuhkan minimal 106 suara dari total 211 anggota FIFA.
Meski didukung penuh oleh negara-negara seperti Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Sri Lanka, posisi Infantino kian goyah setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan bersolidaritas dengan penolakan UEFA (55 suara) dan Concacaf (35 suara).
Jika eskalasi konflik terus meningkat, Infantino bahkan bisa dipaksa mundur lebih cepat sebelum pemilu digelar. Dewan FIFA (FIFA Council) dapat menggelar rapat darurat untuk menuntut pengunduran dirinya apabila minimal 19 dari 37 anggotanya mengajukan mosi tersebut.



