Sebuah fakta tragis terungkap di balik bencana gempa bumi berkekuatan M 6,8 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang. Dua pekerja toko ritel dilaporkan tewas akibat ledakan di dalam mal, setelah pimpinan tempat mereka bekerja memerintahkan keduanya untuk kembali ke dalam bangunan yang terdampak gempa demi mengamankan uang tunai.
Atas insiden kelam tersebut, pihak perusahaan pengelola toko barang umum Habita menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas hilangnya dua nyawa berharga tersebut.
Dua pegawai tersebut merupakan bagian dari 38 korban jiwa dalam bencana gempa bumi dahsyat tersebut. Tujuh di antaranya tewas di dalam area pusat perbelanjaan Aeon Mall.
“Instruksi yang diberikan saat itu sangat tidak tepat, dan saya benar-benar menyesalinya,” ungkap Direktur Penjualan Habita, Goji Yuse, dikutip dari NHK.
Demi Uang Kasir dan Brankas Perusahaan
Salah satu dari dua pekerja yang gugur teridentifikasi bernama Kurumi Otake (22 tahun), sementara identitas satu korban lainnya belum dirilis ke publik.
Pihak keluarga menceritakan bahwa Otake sempat bertemu dengan kerabatnya di luar area Aeon Mall tak lama setelah gempa terjadi. Namun, ia terpaksa kembali masuk ke dalam mal setelah mendapatkan instruksi langsung dari pihak manajemen untuk memindahkan uang tunai dari mesin kasir ke dalam brankas.
Dua perwakilan perusahaan yang hadir pada rumah duka pada hari Minggu mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada keluarga korban.
“Jika melihat kembali kejadian itu, uang tersebut sama sekali tidak sebanding dengan sebuah nyawa,” ujar Yuse kepada wartawan, dilaporkan Kyodo.
Duka Mendalam Keluarga Korban
Kerabat menggambarkan Otake sebagai sosok muda yang bertanggung jawab dan memiliki rasa keadilan yang tinggi. Sejak sang ayah meninggal dunia tiga tahun lalu, Otake menjadi tulang punggung yang menyokong kehidupan ibunya.
“Jika saja dia tidak masuk kembali ke dalam toko saat itu, Kurumi pasti masih bersama keluarganya hari ini. Putri saya tidak akan pernah kembali,” tutur sang ibu penuh duka, dikutip dari Asahi Shimbun.
Ketika sebagian besar pengunjung dan pekerja telah berhasil dievakuasi usai gempa, beberapa karyawan masih berada di dalam bangunan sekitar satu jam kemudian. Saat itulah, ledakan dahsyat terjadi dan meruntuhkan bagian mal tempat para korban berada.
Pihak Habita—perusahaan yang berdiri sejak 1976 dan mengoperasikan puluhan gerai di berbagai prefektur Jepang—menyatakan saat ini tengah mengevaluasi secara internal langkah hukum dan penanganan lanjutan terkait tragedi tersebut.



