JAKARTA – Mobil diesel kerap dianggap lebih irit bahan bakar dibandingkan mobil bensin. Karena konsumsi bahan bakarnya lebih rendah, muncul anggapan bahwa emisi kendaraan diesel juga otomatis lebih sedikit.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tingkat emisi kendaraan tidak bisa dinilai hanya dari jenis bahan bakarnya. Diesel memang dapat menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) lebih rendah, tetapi pada beberapa jenis polutan, terutama nitrogen oksida (NOx), emisinya dapat lebih tinggi dibandingkan mobil bensin.
Diesel Bisa Menghasilkan CO₂ Lebih Rendah
Salah satu alasan mesin diesel sering dianggap lebih ramah lingkungan adalah efisiensi bahan bakarnya.
Sebuah penelitian yang membandingkan 149 mobil penumpang Euro 5 dan Euro 6 menggunakan alat pengukuran emisi saat berkendara menemukan bahwa mobil bensin menghasilkan emisi CO₂ sekitar 13-66 persen lebih tinggi dibandingkan mobil diesel dalam pengujian tersebut.
Dalam pengujian berkendara di wilayah perkotaan, rata-rata emisi CO₂ mobil bensin tercatat sekitar 210,5 gram per kilometer. Sementara itu, mobil diesel berada di angka sekitar 170,2 gram per kilometer.
CO₂ merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Karena itu, dari sisi emisi CO₂ saja, mobil diesel dalam penelitian tersebut memiliki angka yang lebih rendah.
Tapi Diesel Punya Masalah pada NOx
Persoalannya, CO₂ bukan satu-satunya emisi yang perlu diperhatikan.
Penelitian yang sama menemukan bahwa emisi NOx mobil diesel Euro 6 dalam kondisi perkotaan rata-rata mencapai sekitar 0,44 gram per kilometer. Angka tersebut sekitar 11 kali lebih tinggi dibandingkan mobil bensin yang berada di sekitar 0,04 gram per kilometer.
NOx merupakan kelompok gas yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan polusi udara dan berdampak pada sistem pernapasan. Karena itu, mobil dengan emisi CO₂ lebih rendah belum tentu menghasilkan kualitas emisi udara yang lebih baik secara keseluruhan.
Bagaimana dengan Asap Hitam?
Mobil diesel juga memiliki karakteristik emisi partikulat yang berbeda dari kendaraan bensin.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) mencatat bahwa secara umum kendaraan diesel memiliki emisi hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO) yang lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin sejenis, tetapi dapat memiliki emisi NOx dan partikulat yang lebih tinggi. Efisiensi bahan bakar diesel yang lebih baik juga dapat membuat konsumsi bahan bakar dan emisi CO₂ per kendaraan menjadi lebih rendah.
Teknologi pengendali emisi kemudian berkembang, termasuk penggunaan diesel particulate filter (DPF), selective catalytic reduction (SCR), dan sistem pengolahan gas buang lainnya. Teknologi tersebut dirancang untuk mengurangi polutan yang keluar dari knalpot.
Namun, kondisi kendaraan dan sistem pengendalian emisi tetap berpengaruh terhadap hasil akhirnya.
Jadi, Mana yang Lebih Rendah Emisinya?
Jawabannya tidak bisa hanya disebut “diesel” atau “bensin”.
Jika yang dibandingkan adalah CO₂ per kilometer, sejumlah penelitian menunjukkan mobil diesel dapat menghasilkan emisi lebih rendah karena efisiensi bahan bakarnya lebih baik. Tetapi jika yang dilihat adalah NOx, hasilnya dapat berbalik. Penelitian terhadap 149 kendaraan tadi menunjukkan emisi NOx mobil diesel jauh lebih tinggi daripada mobil bensin dalam pengujian perkotaan.
Bahkan, pengujian kendaraan diesel di kondisi jalan nyata menunjukkan adanya perbedaan besar antara hasil uji laboratorium dan emisi saat kendaraan digunakan sehari-hari. Studi ICCT terhadap 541 mobil diesel Euro 5 dan Euro 6 menemukan rata-rata emisi NOx mobil diesel Euro 6 dalam kondisi nyata mencapai 4,5 kali batas Euro 6 pada pengujian yang dianalisis.
Artinya, menilai kendaraan hanya dari konsumsi bahan bakar atau emisi CO₂ saja belum cukup untuk menentukan seberapa bersih sebuah kendaraan.
Pada akhirnya, teknologi mesin, standar emisi, sistem pengendalian gas buang, kondisi kendaraan, dan pola berkendara sama-sama menentukan jumlah polutan yang dilepaskan ke udara.