Seruan empati dan doa bertajuk #PrayForKalimantan menggema luas di platform media sosial X (Twitter). Gelombang keprihatinan ini memuncak setelah tangkapan layar peta digital Google Maps hingga sistem pemantauan satelit FIRMS milik NASA memperlihatkan hamparan lingkaran merah titik api yang merata di hampir seluruh penjuru Pulau Kalimantan.
Video dan foto situasi terkini yang memperlihatkan pekatnya kabut asap memicu rasa khawatir mendalam publik, terutama terkait ancaman kesehatan pernapasan warga serta keselamatan ekosistem hutan.
Pelampiasan rasa duka dan kekhawatiran pun membanjiri jagat maya:
“Entah Kalimantan dibakar atau terbakar, yang pasti jutaan hewan jadi korban, jutaan pohon hangus, jutaan bayi dan manusia sesak napas menghirup asap #prayforkalimantan,” tulis akun @rebukanrain.
“Nggak sanggup bayangin jutaan bayi, anak-anak, dan manusia di Kalimantan harus sesak napas. Asap rokok aja bikin sesak, apalagi ini asap kebakaran hutan…” ungkap akun @assertndayy.
Ribuan Titik Panas (Hotspot) Penuhi Peta Satelit
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 20 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 1.106 titik panas di Pulau Kalimantan yang didorong oleh kondisi fenomena El Niño kuat.
Rincian sebaran titik panas versi BMKG mencakup:
-
Kalimantan Barat: 521 titik
-
Kalimantan Tengah: 424 titik
-
Kalimantan Timur: 103 titik
-
Kalimantan Selatan: 40 titik
-
Kalimantan Utara: 18 titik
Sementara itu, data pemantauan Satelit NOAA-20 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekam angka yang jauh lebih masif, yakni mencapai 1.487 hotspot dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah (767 titik) dan Kalimantan Barat (560 titik). BMKG mengonfirmasi bahwa rentang Agustus hingga September merupakan masa puncak risiko terjadinya karhutla.
Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
Dampak kepungan asap ini tak lagi sekadar angka di atas peta, melainkan krisis nyata yang mengancam jiwa. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Air Quality Index (AQI) sempat melonjak drastis hingga menyentuh angka 487 pada 19 Agustus—sebuah status angka yang masuk dalam taraf berbahaya bagi manusia.
Kondisi serupa dialami wilayah Banjarbaru, Kalimantan Selatan. BMKG mencatat konsentrasi partikel mikro berbahaya PM2.5 melonjak tinggi hingga 389,4 µg/m³.
Tingginya paparan partikel halus PM2.5 ini menjadi ancaman serius karena mampu menembus dalam hingga ke organ paru-paru. Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, serta penderita gangguan pernapasan kini membutuhkan penanganan khusus dan perhatian darurat di tengah kepungan kabut asap.





