Dunia adu banteng Spanyol tengah diselimuti duka mendalam. Seorang mantan matador ternama, Ricardo Ortiz, tewas secara tragis setelah diseruduk oleh banteng saat ia sedang mempersiapkan hewan-hewan tersebut untuk sebuah pertunjukan besar di Málaga, Spanyol Selatan.
Sebuah insiden mematikan mengguncang arena adu banteng bersejarah, La Malagueta, pada Jumat (3/4/2026). Ricardo Ortiz (50), seorang pensiunan matador yang sangat dihormati, mengembuskan napas terakhir setelah diseruduk oleh salah satu banteng di area kandang persiapan.
Pihak penyelenggara, Lances de Futuro, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi saat Ortiz sedang menangani banteng-banteng yang akan tampil dalam acara adu banteng bertema Picasso keesokan harinya.
“Kami ingin menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga, teman, dan rekan sejawat almarhum. Beliau adalah sosok yang sangat dicintai dan dihormati di dunia adu banteng,” tulis pernyataan resmi perusahaan tersebut.
Darah Pejuang di Garis Keturunan
Lahir di Málaga pada tahun 1974, Ricardo Ortiz bukan orang baru di arena ini. Ia lahir dari keluarga matador dan memiliki karier yang sangat sukses selama masa kejayaannya. Namun, takdir berkata lain; ia justru menemui ajalnya di tempat yang membesarkan namanya, tepat sehari sebelum perayaan seni adu banteng yang telah dijadwalkan.
Kematian Ortiz terjadi di tengah meningkatnya ketegangan budaya di Spanyol. Tradisi adu banteng kini berada di pusaran kontroversi antara pelestarian budaya dan desakan aktivis hak asasi hewan.
Data menunjukkan bahwa popularitas tradisi ini terus merosot tajam:
-
Di Spanyol: Jumlah festival adu banteng turun hingga sepertiga antara tahun 2010 dan 2023.
-
Di Kolombia: Pemerintah telah mengesahkan undang-undang pada 2024 yang melarang total adu banteng mulai tahun 2027.
-
Di Meksiko: Aturan baru kini melarang penggunaan pedang dan tombak untuk mengurangi luka pada banteng maupun risiko bagi matador.
Kini, hanya tersisa tujuh negara di dunia yang masih menyelenggarakan pertunjukan adu banteng. Tragedi yang menimpa Ortiz seolah menjadi pengingat keras akan risiko mematikan yang selalu mengintai di balik gemerlapnya arena pasir Spanyol.