WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaan mendalam terhadap sikap ExxonMobil dan mengancam akan mengecualikan perusahaan minyak raksasa itu dari peluang berinvestasi di sektor energi Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan di Gedung Putih pada Jumat, 9 Januari 2026, bersama 17 CEO perusahaan minyak terkemuka asal Amerika Serikat.
Dalam pertemuan itu, Trump mendorong perusahaan-perusahaan minyak AS untuk mengucurkan dana minimal USD100 miliar atau sekitar Rp1.685 triliun guna merevitalisasi industri minyak Venezuela. Langkah ini diambil tidak lama setelah operasi militer Amerika Serikat berhasil menangkap dan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari 2026.
Namun, CEO ExxonMobil Darren Woods menyampaikan pandangan yang sangat skeptis. Ia menegaskan bahwa pada kondisi saat ini Venezuela masih tidak layak untuk investasi. Woods menekankan perlunya perubahan besar, termasuk reformasi undang-undang hidrokarbon, kerangka kerja komersial, sistem hukum, serta jaminan perlindungan investasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Kami telah dua kali mengalami penyitaan aset di sana. Karena itu, Anda dapat membayangkan bahwa untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya dibutuhkan perubahan yang sangat signifikan dibandingkan dengan apa yang selama ini kami alami,” ujar Woods kepada Trump dalam pertemuan tersebut.
“Jika kita melihat konstruksi dan kerangka hukum serta komersial yang saat ini berlaku di Venezuela, negara itu masih tidak layak untuk investasi,” tambahnya.
Pernyataan Woods langsung menjadi sorotan utama pemberitaan dan meredupkan harapan Gedung Putih untuk menciptakan momentum positif dari dialog dengan para pimpinan industri minyak dunia.
Trump tidak menyembunyikan rasa kesalnya. Saat berbincang dengan wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu, 11 Januari 2026, ia mengatakan:
“Saya tidak menyukai respons Exxon. Saya mungkin akan cenderung menyingkirkan Exxon. Saya tidak menyukai respons mereka. Mereka terlalu bermain aman,” kata Trump, sebagaimana dilansir berbagai media internasional, termasuk The Guardian.
Hingga berita ini diturunkan, ExxonMobil belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Presiden Trump.
Latar Belakang Konflik Panjang
ExxonMobil, bersama ConocoPhillips dan Chevron, pernah menjadi mitra utama perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, selama beberapa dekade. Namun, pada periode 2004–2007, mendiang Presiden Hugo Chávez melakukan nasionalisasi besar-besaran terhadap industri minyak.
Chevron berhasil mempertahankan kerja sama dengan PDVSA melalui jalur negosiasi. Sebaliknya, ExxonMobil dan ConocoPhillips memilih hengkang dari Venezuela dan mengajukan gugatan arbitrase internasional.
Akibat keputusan tersebut, Venezuela kini terikat kewajiban membayar lebih dari USD13 miliar secara kolektif kepada ExxonMobil dan ConocoPhillips berdasarkan putusan arbitrase internasional.
Langkah Trump merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memanfaatkan cadangan minyak terbesar di dunia milik Venezuela guna menekan harga energi global serta mendukung kepentingan ekonomi Amerika Serikat pasca-penggulingan Maduro. Meski demikian, sikap hati-hati para eksekutif industri minyak menunjukkan bahwa tantangan besar masih menghadang rencana ambisius tersebut.
Venezuela dinilai masih memerlukan reformasi mendalam agar dapat kembali menarik investasi berskala besar dari pelaku industri energi global.