Pemerintah Turkiye bergerak cepat dengan mengirimkan penerbangan carter khusus ke Israel pada Kamis (21/5/2026). Langkah ini diambil untuk memulangkan ratusan aktivis kemanusiaan dari misi Global Sumud Flotilla yang sebelumnya ditangkap dan ditahan oleh pasukan militer Israel.
Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, menegaskan bahwa fasilitas penerbangan evakuasi ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga negara Turkiye, melainkan juga terbuka untuk para relawan yang berasal dari negara ketiga (termasuk negara-negara sekutu misi tersebut).
“Kami berencana membawa warga negara kami dan peserta dari negara ketiga ke Turkiye melalui penerbangan carter khusus yang kami siapkan hari ini,” ungkap Fidan, seperti dikutip dari AFP.
Kirim Tiga Pesawat ke Bandara Ramon
Sumber dari Kementerian Luar Negeri Turkiye merinci, sebanyak tiga pesawat carter dengan total kapasitas lebih dari 400 penumpang telah diterbangkan menuju Bandara Ramon, yang terletak sekitar 20 kilometer dari kota resor Eilat di Israel selatan.
Berdasarkan jadwal yang disusun oleh penyelenggara armada, rombongan aktivis ini diperkirakan akan mendarat di Bandara Istanbul pada bagian Eropa kota tersebut sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Media lokal melaporkan, setidaknya ada 78 warga negara Turkiye di antara total ratusan peserta yang dievakuasi.
Dikecam Dunia Akibat Video “Aktivis Dipaksa Berlutut”
Misi kemanusiaan ini awalnya bermula pada 14 Mei 2026, ketika sekitar 50 kapal bertolak dari Turkiye dengan misi menembus blokade ketat Israel di Jalur Gaza. Di tengah laut, mereka bergabung dengan kapal-kapal kemanusiaan lainnya dalam payung Global Sumud Flotilla. Namun, saat berada di lepas pantai Siprus pada hari Selasa, pasukan Israel menghadang armada tersebut dan menahan sekitar 430 aktivis sipil.
Penahanan ini langsung memicu gelombang kecaman internasional setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah rekaman video yang memperlihatkan para aktivis diperlakukan secara tidak manusiawi. Dalam video tersebut, para relawan dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung serta dahi yang ditempelkan ke tanah.
Pemerintah Ankara menilai tindakan keji itu secara gamblang mempertontonkan kepada dunia internasional tentang kebobrokan moral dan aksi tidak pantas dari pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Sebagai informasi, Jalur Gaza telah berada di bawah blokade total Israel sejak tahun 2007, di mana seluruh akses masuk dikontrol ketat secara sepihak. Global Sumud Flotilla sendiri merupakan upaya ketiga dalam setahun terakhir yang nekat menembus blokade demi menyalurkan bantuan, mengingat warga Gaza terus mengalami krisis akut makanan, air bersih, obat-obatan, hingga bahan bakar sejak perang pecah pada Oktober 2023.