JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan terbaru terkait dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatra sejak akhir November lalu. Hingga kini, bencana yang melanda tiga provinsi utama, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar serta menyebabkan kerusakan infrastruktur secara masif.
Berdasarkan data resmi BNPB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 1.135 jiwa. Sementara itu, 173 orang masih dinyatakan hilang. Selain korban jiwa, bencana ini juga memaksa 489.600 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman akibat rumah dan permukiman mereka rusak atau terendam banjir.
“Update data bencana Sumatra Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB): meninggal 1.135 jiwa, hilang 173 jiwa, total mengungsi 489,6 ribu jiwa,” demikian kutipan langsung dari laporan resmi BNPB.
Bencana hidrometeorologi ini berdampak pada 52 kabupaten dan kota di wilayah terdampak, menjadikannya salah satu peristiwa bencana alam terparah dalam sejarah Indonesia modern. Kerusakan permukiman tercatat sangat luas, dengan 77.397 unit rumah rusak ringan, 33.276 unit rusak sedang, serta 47.165 unit rusak berat. Total rumah terdampak mencapai lebih dari 157 ribu unit.
Tidak hanya permukiman warga, fasilitas publik juga mengalami kerusakan signifikan. BNPB mencatat sebanyak 215 unit fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, yang berpotensi mengganggu layanan medis bagi para penyintas. Sektor pendidikan turut terdampak, dengan 3.188 unit fasilitas pendidikan rusak sehingga ribuan siswa kehilangan akses belajar. Selain itu, sebanyak 806 rumah ibadah dilaporkan mengalami kerusakan.
Sektor transportasi pun terdampak parah. Tercatat 98 jembatan terputus serta 101 ruas jalan rusak atau tidak dapat dilalui. Kondisi ini menghambat distribusi bantuan logistik dan proses evakuasi, bahkan menyebabkan sejumlah wilayah terisolasi.
Pemerintah melalui BNPB terus mengoordinasikan upaya tanggap darurat, termasuk pencarian korban hilang oleh tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, serta relawan. Penyaluran bantuan logistik melalui jalur darat, udara, dan sungai juga terus dipercepat, meski masih menghadapi kendala akses di sejumlah lokasi.
BNPB menegaskan bahwa data korban dan kerusakan masih bersifat dinamis dan berpotensi berubah seiring proses pendataan serta verifikasi di lapangan. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat intensitas hujan masih tinggi.
Tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya kerentanan ekologis di Sumatra. Kombinasi cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan dinilai memperparah dampak bencana. Pemerintah saat ini tengah mempersiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang, termasuk pembangunan hunian sementara, guna memulihkan kehidupan para penyintas.