JAKARTA — Penanganan pascagempa bermagnitudo 7,7 di Nagekeo dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memasuki tahap pemulihan. BNPB menyatakan seluruh jalan nasional dan jaringan energi utama telah pulih, sementara distribusi logistik kini diprioritaskan ke wilayah terisolasi.
Berdasarkan laporan pemulihan infrastruktur per Rabu (19/8/2026), Kementerian Pekerjaan Umum sukses melakukan perbaikan cepat pada sembilan ruas jalan nasional yang sempat lumpuh. Sebelumnya, guncangan gempa sempat merusak 45 titik jalan dan 16 titik jembatan di kawasan Flores.
“Per 19 Agustus 2026, seluruh sembilan ruas jalan nasional yang terdampak telah kembali fungsional. Layanan pasokan air bersih juga terus disalurkan ke wilayah terdampak di Ende, Nagekeo, dan Sikka,” rilis BNPB dalam laporan pembaruan penanganan darurat, Kamis (20/8/2026).
Pemulihan sektor energi dan komunikasi juga berjalan cepat. PT PLN (Persero) mengonfirmasi kelistrikan di bawah UP3 Flores Bagian Timur dan Barat sudah pulih total 100 persen. Di saat bersamaan, Pertamina telah mengoperasikan kembali 56 SPBU di seluruh wilayah Flores secara normal sejak 18 Agustus 2026, didukung pemulihan jaringan telekomunikasi Telkom Group dan Telkomsel yang sudah mencapai 100 persen.
Kendati akses utama telah pulih, tantangan distribusi masih berada di daerah terisolasi, khususnya di wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Untuk mengatasi hal tersebut, BNPB memprioritaskan percepatan distribusi bantuan logistik melalui jalur udara dan darat.
Dalam operasi pengangkutan udara pada 19 Agustus 2026, puluhan ton bantuan diterbangkan ke dua posko utama di Flores. Pesawat militer Airbus A400M menyalurkan bantuan seberat 22.493 kg ke Labuan Bajo. Sementara itu, empat armada pesawat jenis Boeing (A-7305, A-7306, A-1333, dan A-1331) menggelontorkan total lebih dari 43 ton logistik menuju Maumere.
Dukungan pasokan sembako diprioritaskan untuk penyaluran di dua titik krusial, yaitu 5.000 paket sembako di Posko Maumere dan 2.900 paket sembako di Posko Labuan Bajo.
Guna menjangkau titik-titik sulit di pedalaman, pengerahan armada lintas udara, darat, dan laut dikerahkan secara masif. Armada udara yang beroperasi meliputi Helikopter AS 350 B3 reg. PK DBM, dua unit Helikopter Bell Ditjen Hubud, Helikopter Caracal TNI AU, Helikopter Bell 412 TNI AD, Helikopter Panther TNI AL, Pesawat Caravan Ditjen Hubud, serta dua unit pesawat Susi Air yang disiagakan BNPB.
Di jalur darat, sebanyak 40 unit armada truk dikerahkan untuk mendistribusikan barang bantuan dari posko utama. Sementara dari jalur laut, penyuplai bahan logistik dan personel disokong oleh armada kapal perang Indonesia, meliputi KRI Bung Hatta-370, KRI SHS-990, KRI TGI, dan KRI TCB-532.





