Kehadiran Valentino Rossi di garasi MotoGP Catalunya 2026 langsung memanaskan situasi paddock. Sang juara dunia sembilan kali itu secara blak-blakan menyoroti performa Pecco Bagnaia yang tampak terseok-seok sejak awal tahun lalu, serta hubungannya yang mulai mendingin dengan Ducati Lenovo.
Bagnaia, yang santer dirumorkan bakal hengkang dan menyeberang ke Aprilia pada musim 2027, memang belum sekalipun menginjakkan kaki di podium balapan utama (Grand Prix) musim ini. Padahal, ia sempat meraih posisi pole di Le Mans dan tiga kali naik podium di sesi Sprint.
Rossi Senggol Komitmen Ducati: “Beri Usaha yang Sama!”
Melihat situasi sulit yang dihadapi muridnya, Rossi pasang badan. Ia memuji etos kerja Bagnaia yang dinilainya sudah sangat maksimal, namun di sisi lain, ia juga melemparkan kritik halus kepada manajemen tim asal Bologna tersebut.
“Pecco punya sikap yang sangat bagus tahun ini, dia benar-benar memberikan segalanya. Musim masih panjang, dan kemungkinan besar dia tidak akan membalap untuk Ducati lagi tahun depan,” ungkap Rossi kepada Sky Italia.
Rossi mengibaratkan dinamika antara Bagnaia dan Ducati seperti sepasang kekasih. “Ini seperti dalam pernikahan di mana kalian saling mencintai, tapi ketika hal buruk terjadi seperti tahun lalu dan hasil tidak kunjung datang, Pecco sempat melontarkan beberapa komentar… Saya melihat ketegangan kini sudah sedikit mereda. Namun, saya ingin Ducati mengerahkan usaha yang sama besarnya dengan Pecco untuk bisa kembali ke barisan depan,” tambah Rossi penuh penekanan.
Jawaban Pasrah Pecco: Motor GP26 Sulit Dipahami
Mendengar pembelaan dari sang mentor, Bagnaia yang harus memulai Sprint Race Catalunya dari posisi ke-13 dan finis di posisi ke-6 akhirnya angkat bicara. Juara dunia dua kali itu mengakui bahwa ia dan timnya memang sedang buntu dalam mencari set-up dasar motor terbaru mereka, Desmosedici GP26.
“Tahun ini saya merasa memberikan segalanya, bahkan sedikit lebih banyak. Kami kesulitan memulai awal musim dengan baik karena motor (GP26) ini masih harus dipahami lebih dalam,” curhat Bagnaia.
Ia bahkan membandingkan situasinya dengan pembalap satelit VR46, Fabio Di Giannantonio (Diggia). “Kami tidak memiliki base set-up yang bekerja sangat baik di semua sirkuit seperti yang berhasil ditemukan oleh Diggia. Dia selalu di depan dalam situasi apa pun, sementara kami harus berjuang lebih keras,” tandasnya.
Bagnaia menjelaskan bahwa meskipun motornya bisa menikung dengan baik di lintasan Barcelona yang terkenal licin, ia kehilangan banyak daya cengkeram (traction) di lap-lap awal. Akibat rentetan hasil minor ini, pembalap asal Italia tersebut kini terdampar di posisi kesembilan klasemen sementara, tertinggal 10 poin dari rekan setimnya yang sedang absen, Marc Marquez.