JAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara berlebihan dalam pendidikan dapat berdampak pada kemampuan berpikir peserta didik.
Stella menilai kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat pelajar dan mahasiswa meninggalkan proses berpikir dalam menyelesaikan persoalan. Menurut dia, kemampuan memahami proses di balik sebuah jawaban tetap diperlukan agar manusia tidak sekadar menerima hasil yang diberikan teknologi.
Peringatan itu disampaikan Stella saat menjadi pembicara dalam forum High Level Talk FEKDI-IFSE di Jakarta. Ia menyoroti penggunaan AI di sektor pendidikan yang terus berkembang, termasuk di Indonesia.
Berdasarkan Statista Consumer Insights yang disampaikan dalam forum tersebut, Indonesia berada di posisi teratas dalam penggunaan AI untuk pendidikan. Namun, Stella mengingatkan tingginya penggunaan teknologi tersebut perlu diikuti dengan cara pemanfaatan yang tepat.
Menurut dia, AI semestinya digunakan sebagai alat yang membantu proses belajar, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir peserta didik. Kemampuan manusia untuk memahami, menilai, dan mengevaluasi keluaran AI tetap harus dipertahankan.
“Jadi yang harus kita buat adalah sistem insentif yang benar. Dan satu-satunya cara untuk kita bisa tetap mampu mengevaluasi AI, adalah kita harus bisa mengerti melalui proses berpikirnya,” ujar Stella.
AI Jangan Jadi Jalan Pintas
Dalam proses pendidikan, AI kini dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi hingga membantu menyelesaikan tugas. Kemudahan tersebut membuat teknologi AI semakin dekat dengan aktivitas belajar peserta didik.
Namun, menurut Stella, persoalan muncul ketika teknologi digunakan untuk menggantikan proses berpikir yang seharusnya dilakukan oleh pelajar. Penggunaan AI sebagai jalan pintas dapat membuat peserta didik terbiasa menerima jawaban tanpa memahami bagaimana jawaban tersebut diperoleh.
Padahal, proses memahami persoalan, mengolah informasi, menganalisis, hingga menemukan solusi merupakan bagian penting dari pembelajaran.
Karena itu, kemampuan untuk mengevaluasi hasil yang diberikan AI menjadi hal yang tidak dapat ditinggalkan. Peserta didik tetap perlu memiliki pemahaman yang cukup agar dapat menilai apakah informasi atau jawaban yang dihasilkan teknologi tersebut dapat digunakan.
Stella menekankan pentingnya sistem pendidikan yang tidak hanya mendorong penguasaan teknologi, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir manusia di tengah perkembangan AI.
Kemampuan Berpikir Kritis Tetap Dibutuhkan
Penguatan kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu hal yang dinilai penting dalam menghadapi perkembangan AI. Peserta didik tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami dan menilai hasil yang diberikan.
Kemampuan tersebut diperlukan agar pelajar tidak menjadi pengguna pasif yang menerima seluruh keluaran AI tanpa proses pemeriksaan.
Dalam konteks pendidikan, penggunaan AI karena itu perlu ditempatkan dalam koridor yang tepat. Teknologi dapat membantu mempercepat proses belajar dan memberikan akses terhadap informasi, tetapi proses memahami materi dan membangun kemampuan berpikir tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.
Stella juga menyoroti perlunya keseimbangan antara perkembangan teknologi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Penguasaan teknologi, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan kemampuan manusia untuk berpikir dan melakukan evaluasi.
Dengan demikian, tantangan pendidikan di tengah perkembangan AI bukan semata-mata bagaimana peserta didik dapat menggunakan teknologi tersebut. Yang tidak kalah penting adalah memastikan mereka tetap memiliki kemampuan untuk memahami proses, menguji informasi, dan mengevaluasi hasil yang diberikan AI.
Kemampuan tersebut menjadi penting agar pemanfaatan AI dalam pendidikan tetap mendukung proses pembelajaran, bukan justru mengurangi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.