JATENG – Laga semifinal turnamen sepak bola antarkampung (tarkam) Danlanud Cup 2026 di Lapangan Garuda Manunggal Lanud Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, berubah menjadi insiden yang mencoreng sportivitas. Seorang wasit menjadi korban dugaan pengeroyokan setelah pertandingan memanas akibat protes terhadap keputusan pengadil lapangan.
Meski sempat dihentikan karena alasan keamanan, pertandingan yang mempertemukan Andalas FC asal Banjarnegara melawan Gama Adipasir akhirnya tetap diselesaikan hingga peluit akhir berbunyi. Andalas FC keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 1-0.
Ketua Askab PSSI Purbalingga, Uut Triyas Yanuar, menjelaskan pertandingan sejatinya berlangsung normal sejak awal. Seluruh prosedur pertandingan telah dijalankan, termasuk pengamanan dari personel TNI Angkatan Udara, kehadiran tenaga medis, serta ambulans yang telah disiagakan di lokasi.
Namun situasi berubah ketika pertandingan memasuki menit ke-17. Saat skor masih bertahan 0-0, wasit Ridho Bekti Utomo mengambil keputusan atas sebuah pelanggaran yang terjadi di area pertahanan Gama Adipasir.
Menurut Uut, keputusan tersebut pada awalnya tidak menimbulkan keberatan dari para pemain di lapangan. Ketegangan justru muncul setelah sejumlah ofisial tim Andalas FC mendatangi meja pertandingan untuk melayangkan protes.
“Kick off dimulai normal sesuai prosedur dan regulasi. Setelah permainan berjalan sekitar 17 menit dengan skor 0-0, terjadi pelanggaran di daerah Gama FC dan wasit memberikan keputusan yang sebenarnya sudah bisa diterima kedua tim,” ujar Uut Triyas Yanuar saat dikonfirmasi, Jumat (31/7/2026).
Ia melanjutkan, situasi memanas ketika manajer dan ofisial Andalas FC menyampaikan protes keras terhadap keputusan wasit.
“Tetapi kemudian manajer dan ofisial Andalas mendatangi meja pertandingan dan melancarkan protes keras karena tidak menerima keputusan wasit,” katanya.
Di tengah suasana yang semakin tegang, kondisi di dalam stadion berubah tidak terkendali. Sejumlah orang yang diduga merupakan suporter Andalas FC disebut masuk ke lapangan dari berbagai sisi. Mereka kemudian mengejar wasit hingga terjadi aksi pengeroyokan.
Tidak hanya wasit utama yang menjadi korban, salah seorang asisten wasit, Rio Wahyu, juga terkena lemparan botol plastik di bagian kepala yang dilakukan oleh orang tak dikenal.
“Berbarengan dengan proses protes itu, ketika wasit akan melanjutkan pertandingan, tiba-tiba suporter Andalas masuk ke lapangan dari beberapa penjuru dan mengejar wasit hingga terjadi pengeroyokan,” ungkap Uut.
Akibat insiden tersebut, wasit Ridho Bekti Utomo mengalami luka-luka dan harus segera dievakuasi menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Emanuel Klampok untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara dua asisten wasit lainnya tetap berada di lokasi pertandingan.
“Setelah pengeroyokan tersebut wasit dilarikan dengan ambulans ke RS rujukan terdekat RS Emanuel Klampok,” ujarnya.
Peristiwa kekerasan terhadap perangkat pertandingan membuat seluruh wasit dan perangkat pertandingan menolak melanjutkan pertandingan. Mereka menilai kondisi keamanan di lapangan sudah tidak memungkinkan untuk meneruskan laga.
Namun menurut Uut, pihak Andalas FC meminta agar pertandingan tetap diteruskan hingga selesai meskipun situasi belum sepenuhnya kondusif.
“Perangkat pertandingan sepakat tidak mau melanjutkan pertandingan dengan alasan keamanan dan kondisi yang kurang kondusif. Tetapi pihak Andalas FC memaksa panitia pelaksana untuk tetap melanjutkan pertandingan sampai selesai,” jelasnya.
Untuk menghindari pertandingan terhenti total, panitia pelaksana kemudian menunjuk wasit pengganti dari unsur TNI Angkatan Udara. Sementara dua asisten wasit dari PSSI tetap bertugas mendampingi jalannya pertandingan.
Meski demikian, pergantian wasit tidak sepenuhnya meredakan ketegangan. Di tengah jalannya babak lanjutan, gelombang protes kembali terjadi sehingga perangkat pertandingan kembali memilih menjauh dari lapangan demi menghindari risiko keselamatan.
“Kericuhan ternyata kembali terjadi di tengah jalannya pertandingan. Protes keras kembali dilayangkan kepada wasit sehingga perangkat pertandingan terpaksa berlari menjauh dari lapangan untuk mengamankan diri,” tutur Uut.
Dalam situasi yang masih diwarnai ketegangan, pertandingan akhirnya berlanjut hingga Andalas FC berhasil memecah kebuntuan melalui sebuah gol. Beberapa detik setelah gol tercipta, pertandingan langsung diakhiri.
“Selanjutnya kegiatan di lapangan masih dilanjutkan lagi oleh panpel, sampai akhirnya pertandingan selesai beberapa detik setelah tercetak gol dari Andalas. Sehingga pertandingan tersebut akhirnya dinyatakan selesai dengan hasil akhir 0-1 untuk Andalas,” pungkasnya.
Insiden tersebut menjadi sorotan karena mencederai nilai sportivitas dalam kompetisi sepak bola amatir. Kekerasan terhadap perangkat pertandingan dinilai menjadi persoalan serius yang memerlukan evaluasi penyelenggaraan, terutama terkait pengamanan pertandingan, pengendalian suporter, serta penegakan disiplin terhadap seluruh pihak yang terlibat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai identitas pelaku dugaan pengeroyokan maupun langkah hukum yang akan ditempuh setelah insiden tersebut. Panitia pelaksana dan pihak terkait juga belum menyampaikan keputusan mengenai kemungkinan sanksi terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kericuhan di semifinal Danlanud Cup 2026.



