NEW DELHI, INDIA — Presiden China Xi Jinping mendorong negara-negara anggota BRICS mengambil peran lebih aktif dalam meredakan konflik dan menjaga perdamaian di Timur Tengah. Xi menilai perang dan aksi militer tidak memberikan keuntungan bagi kepentingan bersama masyarakat internasional.
Seruan itu disampaikan Xi di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS dalam KTT BRICS di New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Xi juga menegaskan kesiapan China bekerja sama dengan seluruh anggota BRICS untuk mendorong stabilitas kawasan dan global.
Mengutip Reuters melalui laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Xi mengatakan BRICS memiliki posisi penting untuk memainkan peran sebagai penyeimbang di tengah berbagai persoalan geopolitik yang berkembang.
“Penting bagi BRICS untuk bertindak sebagai kekuatan penyeimbang dan pembuat perdamaian,” kata Xi dalam pidatonya.
Xi juga menempatkan BRICS sebagai kelompok terdepan bagi negara-negara Global Selatan. Menurut dia, blok tersebut dapat menjadi contoh bagi negara berkembang dalam membangun kemandirian, khususnya melalui penguatan pembangunan berbasis inovasi.
Selain menyampaikan pandangan mengenai peran BRICS dalam menjaga perdamaian, Xi mengumumkan China akan mengambil alih kepemimpinan bergilir BRICS pada tahun depan. China sekaligus akan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19.
Xi Bertemu Modi
Di sela agenda KTT BRICS, Xi juga melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kembali hubungan antara dua negara besar Asia itu.
Menurut kantor berita Xinhua, Xi menyampaikan bahwa China melihat hubungan dengan India dari sudut pandang strategis dan dalam kerangka jangka panjang.
Xi menekankan pentingnya China dan India memanfaatkan keunggulan masing-masing. Kerja sama kedua negara dinilai dapat membuka ruang bagi kedua pihak untuk saling belajar dan mendorong kemajuan ekonomi bersama.
Pertemuan tersebut juga berlangsung dalam momentum penting karena kunjungan Xi ke New Delhi merupakan lawatan pertamanya ke India dalam tujuh tahun terakhir.
Kehadiran Xi di India menjadi sinyal positif bagi hubungan kedua negara yang sebelumnya sempat diwarnai ketegangan. Meski demikian, pemulihan hubungan, terutama dalam bidang perdagangan dan bisnis, dinilai masih membutuhkan proses yang panjang.
Hubungan China dan India memang memiliki sejarah yang kompleks. Kedua negara pernah terlibat konflik bersenjata pada 1962. Ketegangan kembali meningkat setelah bentrokan pasukan di wilayah perbatasan pada 2020 yang menewaskan 20 prajurit India dan empat tentara China.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Beijing dan New Delhi perlahan menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Momentum tersebut semakin menguat setelah kunjungan Modi ke China pada tahun lalu, di tengah perubahan dinamika hubungan geopolitik kedua negara dengan Amerika Serikat.
BRICS Perkuat Posisi Global Selatan
BRICS dibentuk pada 2009 sebagai kelompok yang pada awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Kehadirannya dirancang untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang sekaligus mengimbangi dominasi tatanan ekonomi dan politik global yang selama ini banyak dipengaruhi Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Dalam perkembangannya, BRICS memperluas keanggotaan dengan memasukkan sejumlah negara baru, termasuk Indonesia, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Perluasan tersebut semakin memperbesar pengaruh blok yang kini mencakup negara-negara dengan kepentingan ekonomi dan geopolitik yang beragam.
Secara keseluruhan, negara-negara BRICS saat ini mencakup lebih dari 40 persen populasi dunia dan menyumbang hampir seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Dengan kekuatan tersebut, Xi mendorong BRICS tidak hanya berperan dalam kerja sama ekonomi, tetapi juga mengambil posisi lebih aktif dalam menghadapi persoalan geopolitik dan menjaga stabilitas internasional.