JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan bagi masyarakat di pelosok dan kawasan terpencil.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf resmi melantik 1.323 guru Sekolah Rakyat (SR) dalam prosesi hybrid, Jumat (8/8/2025), untuk mengakselerasi pembukaan sekolah baru di seluruh Indonesia.
Sejak program ini diluncurkan pada pertengahan Juli, perjalanan Sekolah Rakyat diwarnai dinamika, mulai dari tantangan proses belajar mengajar hingga keputusan mundur sejumlah guru dan siswa.
Meski demikian, Kemensos menegaskan program SR tetap berjalan sesuai target.
Saat ini, 70 sekolah sudah beroperasi, dan dalam sepekan mendatang jumlahnya akan bertambah menjadi 100 sekolah. Target akhir tahun adalah 159 sekolah beroperasi penuh.
“Ada 143 guru dan 115 siswa yang mundur. Kami menghormati keputusan tersebut,” ujar Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul.
Ia menambahkan, pemerintah telah menemukan pengganti guru melalui proses seleksi, dan paling lambat September akan dilantik guru serta kepala sekolah untuk 59 titik SR yang masih kosong.
Guru PPPK, Jembatan Pendidikan Bagi Anak Terpencil
Para guru yang dilantik berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Mensos memastikan kebijakan tunjangan akan menyesuaikan kondisi wilayah penempatan, baik di kota besar seperti Jakarta maupun di daerah terpencil.
Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat bukan hanya soal bangunan atau fasilitas, melainkan jembatan harapan.
“Tapi sebuah jembatan dari keterbatasan menuju untuk memastikan setiap anak dari daerah terpencil, pinggiran kota, lereng gunung, bisa melangkah,” ungkapnya.
Dinamika lapangan diungkapkan sejumlah kepala sekolah. Kepala SR Menengah 12 Bogor, Iksan Cahyana, menyebut setiap hari ada kejutan positif di sekolahnya.
“Anak-anak memang butuh diperhatikan. Sekarang (para siswa) sudah tidak mau pulang,” ujarnya sambil tersenyum.
Pendekatan Personal untuk Siswa dengan Beragam Latar Belakang
Kepala SR Menengah Pertama 10 Bogor, Fitri Puspitasari, mengungkapkan tantangan mengajar siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda.
Di sekolahnya, 11 siswa belum lancar membaca dan menulis, sementara dua siswa lainnya merupakan penyandang disabilitas intelektual.
“Guru-guru meluangkan waktu setiap hari untuk memfasilitasi belajar secara personal. Satu guru pegang satu siswa,” tutur Fitri.
Ia menambahkan, meski kemajuan belum sempurna, sudah terlihat perkembangan yang membanggakan. “Walaupun belum terlalu bagus tapi sudah terlihat progresnya,” katanya.
Dengan pelantikan guru-guru ini, Kemensos berharap Sekolah Rakyat menjadi pintu pembuka bagi generasi muda di wilayah terpencil untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak dan setara.***