NEW YORK, USA – Ketegangan di perbatasan Kamboja-Thailand memuncak, memicu seruan mendesak dari Kamboja untuk gencatan senjata segera tanpa syarat.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Duta Besar Kamboja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Chhea Keo, usai pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB pada Jumat, 25 Juli 2025.
Konflik bersenjata yang kembali memanas antara kedua negara tetangga ini menjadi sorotan dunia, dengan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut. “Kamboja meminta gencatan senjata segera tanpa syarat. Kami juga menyerukan penyelesaian damai atas sengketa yang terjadi,” ujar Chhea Keo, seperti dikutip dari AFP melalui unggahan di platform X, Jumat (26/7/2025).
Seruan ini muncul setelah dua hari pertempuran sengit yang melibatkan jet tempur, artileri, tank, dan pasukan darat di wilayah perbatasan, khususnya di sekitar kawasan Candi Prasat Ta Muen Thom.
Konflik perbatasan ini bukanlah hal baru. Perselisihan wilayah antara Kamboja dan Thailand telah berlangsung selama puluhan tahun, dengan eskalasi signifikan pada 2008–2011 yang menewaskan sedikitnya 28 orang.
Meski Mahkamah Internasional pada 2013 sempat meredakan ketegangan, insiden terbaru pada Mei 2025, ketika seorang tentara Kamboja tewas, kembali memicu pertempuran.
Pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB dihadiri oleh perwakilan kedua negara, namun hingga kini belum ada keterangan resmi dari Thailand terkait usulan gencatan senjata. Sementara itu, laporan dari lapangan menyebutkan dampak kemanusiaan yang serius, dengan ribuan warga sipil di kedua sisi perbatasan terpaksa mengungsi.
Di Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja, seorang warga sipil tewas dan lima lainnya terluka akibat serangan artileri. Di sisi Thailand, Kementerian Kesehatan melaporkan 15 korban tewas, termasuk 14 warga sipil, dan 46 orang luka-luka.
Komunitas internasional turut bereaksi. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, selaku Ketua ASEAN 2025, mendesak kedua negara untuk segera menghentikan permusuhan dan membuka dialog damai.
“Saya menyambut baik sinyal positif dan kesediaan yang ditunjukkan oleh Bangkok dan Phnom Penh untuk mempertimbangkan langkah ini ke depan,” tulis Anwar di media sosial.
Amerika Serikat dan Tiongkok juga menyuarakan keprihatinan, menyerukan perlindungan warga sipil dan penyelesaian diplomatik.
Sementara itu, Thailand dilaporkan telah memberlakukan status darurat di delapan distrik perbatasan dan menutup semua akses perbatasan dengan Kamboja.
Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh juga mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Kamboja demi keamanan.
Dengan situasi yang terus bergejolak, dunia kini menanti langkah konkret dari kedua negara untuk meredakan konflik. ASEAN, dengan Malaysia sebagai mediator, diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam mendorong dialog dan mencegah tragedi kemanusiaan yang lebih besar di kawasan Asia Tenggara.