JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)mengeluarkan peringatan dini bencana hidrometeorologi untuk sepekan, memicu terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, petir, dan gelombang tinggi.
Peringatan ini berlaku lintas-pulau dan menuntut kewaspadaan masyarakat, wisatawan, pelaut, hingga operator penerbangan.
Menurut BMKG, lonjakan curah hujan tengah dipicu Madden–Julian Oscillation (MJO) —gelombang atmosfer nonmusiman yang bergerak barat–timur (30–60 hari)—yang saat ini berinteraksi dengan gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik.
Bersamaan itu, Indeks Dipole Mode negatif menandakan aliran massa udara dari Samudra Hindia menuju Indonesia, memperbesar peluang pembentukan awan hujan yang masif.
1. Pemetaan Wilayah & Linimasa Ancaman
11–13 Agustus 2025 (puncak hujan lebat + petir):
- Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua.
14–16 Agustus 2025 (intensitas hujan menurun, lebih spasial):
- Bengkulu, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan.
14–16 Agustus 2025 (angin kencang dominan):
- Aceh, Banten, Jawa Barat, Bali, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Papua Selatan.
Wilayah yang sudah merasakan hujan sangat tinggi (laporan BMKG):
- DKI Jakarta, Banten, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Papua Tengah, Papua Barat, Sulawesi Tenggara.
2. Faktor Meteorologis
Madden–Julian Oscillation (MJO): gelombang konveksi besar-besaran yang “mengusung” kelembapan dari barat ke timur, memicu anomali curah hujan di jalur lintasannya.
Gelombang atmosfer & sirkulasi siklonik: memperkuat pembentukan awan konvektif (termasuk Cumulonimbus), sehingga hujan mudah turun tiba-tiba dengan intensitas tinggi.
Dipole Mode negatif: menandakan arus uap air dari Samudra Hindia ke Indonesia, menambah pasokan kelembapan untuk pertumbuhan awan hujan.
3. Dampak Potensial per Sektor
Permukiman & Perkotaan: genangan/banjir lokal, gangguan drainase, pohon tumbang akibat angin kencang, pemadaman listrik setempat.
Wilayah Rawan Lereng: risiko longsor meningkat saat hujan intens dan berdurasi panjang.
Maritim & Wisata Bahari: gelombang tinggi berpotensi di Pantai Selatan Jawa dan Bali; aktivitas nelayan dan wisata pantai perlu diatur ulang.
Penerbangan: awan Cumulonimbus dan turbulensi berpotensi mengganggu operasi di rute sekitar Sumatra, Banten, Jawa Barat, Selat Karimata, Laut Natuna, Kalimantan, Selat Makassar, Papua.
Transportasi Darat: visibilitas berkurang saat hujan lebat/petir; waspadai jalan licin dan genangan.
4. Rekomendasi Kesiapsiagaan
Untuk Warga:
- Cek saluran air, bersihkan saringan drainase rumah; siapkan senter, power bank, dan dokumen penting antiair.
- Hindari berteduh di bawah pohon/reklame saat petir; batasi aktivitas luar ruang ketika peringatan BMKG aktif.
- Pantau prakiraan harian dan peringatan dini BMKG secara berkala.
- Untuk Wisatawan (Jawa–Bali, terutama pesisir selatan):
- Tunda renang/aktivitas laut terbuka saat peringatan gelombang tinggi; pilih pantai yang dikelola dengan pengawasan lifeguard.
- Hindari tebing/karang saat angin kencang dan ombak sedang aktif.
Untuk Nelayan & Pelaut:
- Perbarui rencana berlayar berdasarkan buletin gelombang; gunakan pelampung standar, periksa radio/EPIRB dan rute alternatif yang lebih aman.
- Untuk Operator Penerbangan & Bandara:
- Perkuat komunikasi pilot–ATC terkait sel CB (Cumulonimbus), rute menghindar, dan kemungkinan penjadwalan ulang (holding/divert).
Untuk Pemda:
Siagakan pompa dan alat berat di titik genangan; posko banjir/longsor dan jalur evakuasi disiapkan; pastikan kanal komunikasi peringatan dini berjalan efektif (RT/RW, media lokal).
5. Anjuran Pemantauan Informasi
Ikuti peringatan dini dan prakiraan cuaca resmi BMKG setiap hari.
Gunakan kanal resmi BMKG untuk pembaruan cepat selama periode 11–16 Agustus 2025.***