JAKARTA – Pemerintah Indonesia resmi membuka peluang investasi besar-besaran bagi pembangunan Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksasa.
Proyek strategis nasional ini ditaksir menelan biaya lebih dari 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.300 triliun, dan ditawarkan ke sejumlah negara, mulai dari China, Korea Selatan, Jepang, hingga mitra dari Eropa.
Langkah ini sejalan dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan tanggul laut sebagai proyek unggulan untuk melindungi wilayah pesisir dari ancaman banjir rob serta dampak perubahan iklim.
“Jadi Giant Sea Wall itu menjadi program besar Pak Presiden, program unggulan, program andalan yang diharapkan bisa menyelamatkan masyarakat di pesisir terhadap perubahan cuaca, climate change,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri diskusi bersama Kadin Indonesia di Jakarta, Kamis.
Skema Pendanaan dan Negara Mitra
Airlangga menjelaskan, pembangunan Giant Sea Wall akan dilakukan bertahap dan dibuka untuk kerja sama investasi lintas negara.
Skema pembiayaan difokuskan pada pola Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), sehingga investor global bisa terlibat langsung dalam pendanaan maupun pengelolaan proyek.
“Fase-fase itu tentunya salah satu nanti akan ditawarkan ke beberapa negara termasuk China. Negara lain sudah juga ditawarkan seperti Korea (Korsel), Jepang, negara Eropa,” ujarnya.
Penawaran Lewat Danantara
Keseriusan Indonesia juga terlihat lewat keterlibatan perusahaan investasi nasional, Danantara, yang aktif menjajaki peluang dengan mitra internasional.
Proyek Giant Sea Wall ditawarkan kepada China Everbright Environment Group, serta dibicarakan bersama China Railway Construction Corporation (CRCC) dan CITIC Group.
“Bersama China Railway Construction Corporation (CRCC), kami membahas proyek kereta cepat dan perlindungan pesisir atau Giant Sea Wall, meninjau solusi hijau bersama China Everbright Environment Group, serta menjajaki peluang besar dengan CITIC Group di sektor energi dan ketahanan pesisir,” ungkap CEO Danantara Rosan Roeslani melalui akun Instagramnya.
Upaya diplomasi ekonomi juga dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo.
Dalam kunjungannya ke Beijing pada 3 September lalu atas undangan Presiden China Xi Jinping, kedua pemimpin negara turut membahas peluang kerja sama strategis, termasuk pembangunan Giant Sea Wall.
Selain itu, pemerintah juga telah membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura untuk merancang, membangun, sekaligus mengelola proyek tanggul laut di pesisir utara Jawa.
Badan ini diharapkan mempercepat penanganan banjir rob dan melindungi jutaan penduduk yang tinggal di kawasan rawan pesisir.***