JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat sejarah baru pada perdagangan Senin (24/11/2025) dengan penutupan di level 8.570 yang menegaskan momentum penguatan pasar domestik.
Lonjakan indeks sebesar 1,85 persen atau setara 155,90 poin menempatkan mayoritas saham di kawasan positif dengan 343 emiten menguat, 297 tertekan, dan 172 bergerak stagnan.
Kenaikan pasar hari ini terutama digerakkan sektor properti yang menjadi motor utama penguatan dengan capaian hampir empat persen sebagaimana.
“Saham sektor properti dan real estate paling kuat kenaikannya (3,93 persen),” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, sementara sektor kesehatan justru menjadi yang terseret turun tipis pada perdagangan sesi akhir.
Pergerakan positif juga merambat ke indeks LQ45 yang dihuni saham-saham unggulan dengan jajaran emiten seperti AMMN, TLKM, DSSA, ISAT, dan UNVR menjadi penggerak utama penguatan.
Transaksi hari ini berjalan sangat likuid dengan volume mencapai 51,65 miliar lembar saham, frekuensi perdagangan menembus 2,55 juta kali, dan nilai transaksi sebesar Rp45,65 triliun yang ikut mengerek kapitalisasi pasar menjadi Rp15.692 triliun.
Dorongan kenaikan IHSG disebut semakin solid setelah keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan dalam dua pertemuan terakhir.
Menurut riset Tim Pilarmas IHSG terus menguat setelah Bank Indonesia kembali menahan suku bunga dua kali berturut-turut pekan lalu.
Hal ini merefleksikan optimisme bahwa inflasi tetap terkendali di rentang target tahun ini dan tahun depan.
Fundamental ekonomi turut menguat melalui capaian transaksi berjalan yang berbalik mencetak surplus pada kuartal III, sebuah pencapaian pertama dalam dua setengah tahun sekaligus tertinggi sejak periode yang sama pada 2022.
Tim Pilarmas juga menyoroti bahwa surplus tersebut dipicu penguatan perdagangan nonmigas serta peningkatan pendapatan sekunder yang menurutnya.
Sentimen eksternal pun cenderung positif dengan bursa Asia kompak menguat mengikuti pergerakan indeks berjangka Amerika Serikat setelah komentar Presiden The Fed New York, John Williams, yang memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga ketiga tahun ini.
Stimulus lain datang dari pernyataan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang yang menegaskan bahwa kebijakan pembatasan mineral penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara keamanan nasional dan kerja sama global sehingga memberi napas tambahan bagi pelaku pasar kawasan.***