PT Pertamina (Persero) berhasil menembus wilayah-wilayah terisolasi di Aceh yang terdampak banjir bandang dan longsor dengan memanfaatkan jalur darurat serta moda suplai khusus, mulai dari SPBU mobile hingga pesawat perintis. Langkah cepat ini dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap dapat mengakses energi di tengah kondisi darurat.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa hingga 7 Desember 2025, sebanyak 688 SPBU atau 98 persen dari total stasiun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berhasil kembali beroperasi, setelah sebelumnya sempat lumpuh akibat bencana.
Untuk mengurai antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU, Pertamina mengoptimalkan operasional 24 jam penuh dan menambah personel layanan, termasuk dukungan dari TNI dan Polri.
Akses Darurat Menuju Bireuen
Salah satu upaya pemulihan paling menantang terjadi di Bireuen, ketika jalur utama dari Fuel Terminal Lhokseumawe terputus total. Tim awak mobil tangki (AMT) Pertamina memanfaatkan jalur darurat dari FT Krueng Raya setelah jembatan utama rusak akibat banjir dan material kayu.
Muzammil (43), AMT Pertamina asal Bireuen, menggambarkan beratnya proses distribusi:
“Kami diberikan kepercayaan untuk membantu masyarakat. Perjalanan jauh lebih lama karena harus melewati genangan air dan jalan berlubang,” ungkapnya.
SPBU Mobile & Pengiriman Udara untuk Wilayah Terisolasi
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh Tamiang, Pertamina Patra Niaga mengoperasikan SPBU Mobile berkapasitas 16 kiloliter lengkap dengan nosel pengisian serta sepuluh set tabung mini (canting) untuk mempercepat layanan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa permintaan BBM di lokasi bencana meningkat hingga 50 persen di atas konsumsi normal.
“Kami paham masyarakat sedang berusaha bangkit, dan energi menjadi kebutuhan penting dalam situasi darurat,” ujarnya.
Untuk daerah yang benar-benar terisolasi, seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, Pertamina menggunakan pesawat perintis dan akan memperluas pengiriman menggunakan pesawat Hercules yang mampu membawa volume lebih besar.
Hingga 7 Desember 2025, melalui program Pertamina Peduli, bantuan telah menjangkau 77.794 jiwa dengan nilai total Rp 5,3 miliar.