JAKARTA – Ketegangan kembali pecah di perbatasan Kamboja-Thailand setelah kedua negara saling menuduh melanggar perjanjian gencatan senjata. Juru bicara tentara Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, menyebut bentrokan terjadi di dua wilayah Provinsi Ubon Ratchathani, timur Thailand.
Militer Thailand menuding pasukan Kamboja melepaskan tembakan senjata ringan dan senjata api tidak langsung di wilayah Chong An Ma, Distrik Nam Yuen. Serangan itu menewaskan satu tentara Thailand dan melukai beberapa lainnya di Pangkalan Anupong. Thailand juga menuduh Kamboja menembakkan roket BM-21 ke wilayah sipil di Provinsi Buri Ram, meski tidak ada korban jiwa.
Sebagai balasan, pasukan Thailand menembakkan senjata ringan dan artileri sesuai aturan keterlibatan. Angkatan Udara Kerajaan Thailand kemudian mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang instalasi militer Kamboja, termasuk depot senjata, pusat komando, dan jalur logistik yang dianggap sebagai ancaman langsung. RTAF menuding Kamboja telah memobilisasi persenjataan berat dan menyiapkan elemen pendukung tembakan yang berpotensi meningkatkan operasi militer di perbatasan. Akibat bentrokan ini, lebih dari 35.000 warga dievakuasi.
Respons Kamboja
Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja membantah tuduhan Thailand, menyebutnya sebagai “informasi palsu”. Dalam pernyataan di platform X, Kamboja menuduh militer Thailand justru melancarkan serangan di dua lokasi setelah melakukan provokasi berhari-hari. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menuding Thailand menembakkan tank ke kuil Tamone Thom dan area sekitar kuil Preah Vihear.
Sengketa perbatasan kedua negara sebelumnya sempat memicu perang lima hari pada Juli 2025, sebelum gencatan senjata ditengahi oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden AS Donald Trump. Pada pertemuan puncak ASEAN di Kuala Lumpur, para pemimpin Thailand dan Kamboja menandatangani deklarasi untuk menyelesaikan konflik yang bermula sejak Mei 2025.