ACEH – Banjir bandang dahsyat yang menerjang Aceh Tamiang sejak 26 November 2025 nyaris merenggut nyawa seorang hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang, Kisty Wisyastuti, beserta puluhan pegawai pengadilan. Selama enam hari terjebak di kantor yang terendam hingga atap, mereka bertahan hidup hanya dengan mi instan mentah dan nasi seadanya dari beras yang diselamatkan warga.
Air bah datang begitu cepat hingga rencana mengamankan ribuan dokumen perkara penting terpaksa dibatalkan. Arus deras membuat mustahil bagi siapa pun untuk mendekat, termasuk tim penyelamat resmi yang belum juga tiba hingga hari keenam.
Kisah heroik terjadi saat empat narapidana yang pernah divonis oleh Kisty Wisyastuti—salah satunya terpidana kasus pencurian sawit—tiba-tiba muncul dengan perahu karet. Tanpa ragu, mereka mendayung mendekati gedung pengadilan, mencari jalur aman, dan satu per satu mengangkat hakim serta para pegawai ke atas perahu.
“Kami benar-benar tidak menyangka. Mereka yang pernah saya vonis justru datang menyelamatkan nyawa kami,” kata Kisty saat dihubungi melalui telepon, Rabu.
Setelah berhasil keluar dari zona banjir, rombongan Kisty sempat ditolak di salah satu posko pengungsian karena sudah penuh. Mereka akhirnya diterima di kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) Kuala Simpang dan bertahan di sana selama tiga hari.
Perjalanan pulang ke Medan pun tak kalah dramatis: menggunakan truk pengangkut sawit dan sampan tradisional melintasi Langkat, sebelum akhirnya tiba dengan selamat.
Kisty mengaku terharu sekaligus bersyukur atas solidaritas yang ditunjukkan para penyintas banjir, terutama empat narapidana yang menolongnya. “Saya melihat langsung bagaimana bencana bisa menyatukan manusia, bahkan yang pernah berseberangan dengan hukum,” ujarnya.
Kisah ini langsung viral di media sosial. Ribuan warganet memuji tindakan mulia para narapidana yang disebut sebagai “pahlawan tak terduga”. Namun, tak sedikit pula yang mengkritik lambatnya distribusi bantuan pemerintah serta sikap sejumlah posko pengungsian yang menolak korban baru dengan alasan kapasitas penuh.
Hingga berita ini diturunkan, banjir di Aceh Tamiang masih memaksa ribuan warga mengungsi, sementara proses pemulihan infrastruktur dan distribusi logistik terus dikejar pemerintah daerah bersama BNPB.