JAKARTA — Kabar baik datang dari institusi jasa keuangan global terkemuka.
Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling mampu hadapi krisis energi global yang tengah melanda banyak negara di dunia.
Penilaian ini bukan sekadar asumsi, melainkan bersumber dari laporan resmi lembaga keuangan terkemuka, JPMorgan.
Laporan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 itu mengkaji ketahanan energi 52 negara konsumen terbesar di dunia, yang secara keseluruhan mewakili sekitar 82 persen dari total konsumsi energi global.
Hasilnya, Indonesia menempati posisi kedua dengan skor ketahanan energi mencapai 77 persen.
Berikut 10 negara paling kuat hadapi krisis energi global 2026 berdasarkan laporan tersebut:
10 Negara paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026
- Afrika Selatan — 79%
- Indonesia — 77%
- China — 76%
- Amerika Serikat — 70%
- Australia — 68%
- Swedia — 66%
- Pakistan — 65%
- Rumania — 64%
- Peru — 63%
- Kolombia — 60%
Di Balik Kuatnya Indonesia
Kekuatan Indonesia dalam menghadapi krisis ini bukan tanpa alasan.
Sebagian besar kebutuhan energi nasional dipenuhi dari sumber domestik, dengan batu bara sebagai tulang punggung yang menyumbang 48 persen, disusul gas alam sebesar 22 persen, dan energi terbarukan 7 persen.
Kombinasi itu membuat sekitar 77 persen pasokan energi Indonesia relatif terlindungi dari tekanan pasar global.
Faktor lain yang turut memperkuat posisi Indonesia adalah rendahnya ketergantungan terhadap impor.
Proporsi impor minyak hanya berada di kisaran 16 persen, sementara untuk gas, Indonesia justru tercatat sebagai negara net eksportir.
Kondisi ini menjadikan dampak krisis energi global terhadap perekonomian domestik jauh lebih terbatas dibandingkan banyak negara lain.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Konsumsi minyak dalam negeri masih terbilang signifikan, dan sebagian kebutuhannya masih harus dipenuhi melalui jalur impor.
Kondisi itu membuat perekonomian Indonesia belum sepenuhnya lepas dari pengaruh fluktuasi harga energi di pasar internasional.
Menariknya, laporan tersebut juga mengungkap bahwa sejumlah negara maju justru berada dalam posisi paling rentan, termasuk Jepang, Korea Selatan, Singapura, serta beberapa negara di kawasan Eropa yang sangat bergantung pada impor energi.(FB)