JAKARTA – Ancaman Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menutup Selat Hormuz memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Jalur laut strategis yang menjadi “urat nadi” perdagangan minyak dunia itu berpotensi berubah menjadi titik krisis baru di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (Nuning) menilai situasi tersebut semakin kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menunjukkan reaksi yang tidak biasa terhadap serangan Israel ke Iran.
“Hal yang kita takuti adalah dampak dari ditutupnya Selat Hormuz,” kata Nuning dalam keterangan tertulis yang diterima Garuda.tv, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya ancaman penutupan Selat Hormuz bukan hanya isu keamanan kawasan, melainkan bisa mengguncang ekonomi dunia dalam waktu singkat. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu selama ini menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk.
Ia juga menyoroti perubahan sikap Trump yang selama ini dikenal menganut kebijakan isolasionis dan cenderung menghindari keterlibatan langsung dalam konflik luar negeri.
“Presiden Donald Trump sebagai isolasionis dan biasanya tidak suka terlibat perang langsung, kali ini nampak terprovokasi Israel menyerang Iran,” ujarnya.
Nuning turut mengutip pernyataan pejabat militer Iran terkait langkah strategis tersebut. “Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz di tengah situasi memanas di kawasan Timur Tengah,” kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari.
Jalur Vital Minyak Dunia Terancam
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), lebih dari 20 persen konsumsi minyak harian global atau sekitar 18 hingga 20 juta barel per hari melintasi kawasan itu.
Sebagian besar ekspor minyak mentah dari negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab bergantung pada jalur tersebut. Selain itu, ekspor gas alam cair (LNG) Qatar—salah satu pemasok terbesar dunia—juga hampir sepenuhnya melewati Selat Hormuz.
Jika jalur ini ditutup, rantai pasok energi global diperkirakan terganggu seketika. Harga minyak mentah berpotensi melonjak tajam, diikuti kenaikan biaya transportasi, inflasi, dan tekanan ekonomi di berbagai negara.
Nuning menegaskan ancaman penutupan Selat Hormuz harus dipandang sebagai instrumen tekanan ekonomi, bukan sekadar langkah militer.
Dengan posisi geografis yang strategis, Iran memiliki pengaruh besar terhadap arus perdagangan energi dunia, jika ancaman itu benar-benar direalisasikan, dunia dapat menghadapi krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.