JAKARTA – Aryna Sabalenka meninggalkan Roland Garros 2026 dengan kekecewaan mendalam setelah langkahnya terhenti secara mengejutkan di babak perempat final oleh Diana Shnaider dalam pertandingan yang menjadi salah satu hasil paling mengejutkan di turnamen tahun ini.
Petenis nomor satu dunia asal Belarus tersebut bukan hanya gagal meraih gelar French Open pertamanya, tetapi juga mengalami kekalahan yang menyakitkan setelah tidak mampu merebut satu gim pun pada set penentuan, sebuah hasil yang jauh dari ekspektasi publik maupun dirinya sendiri.
Kekalahan itu terasa semakin berat karena jalur menuju trofi Roland Garros sebenarnya terbuka lebar bagi Sabalenka, sehingga banyak pengamat menilai kesempatan emas yang mungkin sulit terulang telah terlepas dari genggamannya.
Kekecewaan Mendalam Usai Kekalahan Menyakitkan
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Sabalenka tidak menyembunyikan emosinya dan mengakui bahwa dirinya sangat frustrasi dengan performa yang ditampilkan di lapangan.
“Saat ini saya hanya ingin berhenti bermain tenis,” ungkap Sabalenka menggambarkan kondisi emosionalnya sesaat setelah tersingkir dari turnamen,seperti dilansir Lob and Smash, Sabtu (6/6/2026).
Pernyataan tersebut bukan berarti ia berniat pensiun, melainkan cerminan dari rasa kecewa yang sangat besar terhadap permainan yang gagal mencapai standar yang selama ini ia bangun sebagai petenis terbaik dunia.
Sabalenka mengaku membutuhkan waktu untuk menjauh sejenak dari tenis agar dapat mengevaluasi penampilannya sekaligus memulihkan kondisi mental setelah hasil yang sulit diterima tersebut.
Peluang Juara yang Sulit Terulang
Meski dikenal lebih dominan di lapangan keras dibandingkan tanah liat, banyak pihak menilai edisi Roland Garros 2026 memberikan kesempatan ideal bagi Sabalenka untuk merebut gelar Grand Slam di Paris.
Persaingan yang lebih terbuka dibanding musim-musim sebelumnya membuat status unggulan utama yang disandangnya semakin diperhitungkan untuk menjadi juara.
Namun, performa gemilang yang diharapkan justru tidak muncul saat menghadapi Diana Shnaider yang tampil lebih konsisten dan mampu memanfaatkan setiap peluang untuk menekan Sabalenka.
Pada akhirnya, Shnaider tampil sebagai pemain yang lebih siap dan pantas melangkah ke babak berikutnya.
Kontroversi Atap Stadion Philippe-Chatrier
Selain kecewa terhadap penampilannya sendiri, Sabalenka juga menyoroti keputusan penyelenggara Roland Garros yang membiarkan atap Court Philippe-Chatrier tetap terbuka saat pertandingan berlangsung di tengah kondisi angin kencang.
Angin yang berputar dan berubah arah secara konstan membuat kedua pemain kesulitan mengontrol bola serta memengaruhi kualitas permainan sepanjang pertandingan.
Ironisnya, setelah laga Sabalenka berakhir, panitia memutuskan menutup atap stadion menjelang pertandingan tunggal putra antara Felix Auger-Aliassime dan Flavio Cobolli yang dimainkan di lapangan yang sama.
Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi penyelenggara dalam memberikan kondisi pertandingan yang ideal bagi seluruh peserta turnamen.
Sabalenka Pertanyakan Keputusan Panitia
Sabalenka secara terbuka mempertanyakan alasan atap stadion tidak ditutup sejak awal ketika kondisi cuaca sudah menunjukkan gangguan yang signifikan.
“Saya tidak mengerti mengapa mereka tetap membiarkan atap terbuka ketika angin bertiup sangat kencang,” ujar Sabalenka kepada media.
Pernyataan itu kemudian memicu perdebatan di kalangan penggemar tenis mengenai perlakuan yang diterima pertandingan putri dibandingkan pertandingan putra di Roland Garros.
Sejak sistem pertandingan malam diperkenalkan pada 2021, pertandingan tunggal putri diketahui jauh lebih jarang mendapatkan slot utama dibandingkan pertandingan putra, sehingga kembali memunculkan kritik terkait kesetaraan perlakuan di ajang Grand Slam tersebut.
Sabalenka sendiri mengakui bahwa Diana Shnaider bermain lebih baik pada hari itu dan layak memenangkan pertandingan.
Meski demikian, ia menilai kondisi lapangan yang dipengaruhi angin kencang membuat pertandingan tidak berlangsung dalam situasi ideal bagi kedua pemain.
Tidak ada yang dapat memastikan apakah penutupan atap stadion akan mengubah hasil akhir pertandingan.
Namun banyak pihak meyakini kualitas permainan akan lebih baik apabila kedua pemain bertanding dalam kondisi yang lebih stabil dan minim gangguan cuaca.
Pada akhirnya, kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi Sabalenka yang masih harus menunggu kesempatan berikutnya untuk memburu gelar Roland Garros pertamanya, sementara kontroversi mengenai perlakuan terhadap pertandingan putri kembali menjadi topik hangat di dunia tenis internasional.***