Desa Garoga di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, telah lenyap dari peta hidupnya akibat banjir bandang dan longsor dahsyat yang menerjang pada akhir November lalu. Lebih dari 140 rumah, lahan pertanian, sekolah, dan tempat ibadah terkubur di bawah timbunan tanah, lumpur, dan ribuan batang kayu besar yang hanyut dari hulu sungai.
Tragedi ini bukan hanya bencana alam semata, tapi juga vonis keras atas kerusakan lingkungan yang telah lama dibiarkan, meninggalkan duka mendalam bagi sekitar 270 kepala keluarga yang kehilangan segalanya.
Kronologi Bencana: Dari Hujan Ekstrem Hingga Gelombang Pemusnah
Semuanya bermula pada 24-25 November 2025, ketika curah hujan ekstrem mencapai hampir 450 milimeter dalam dua hari—angka yang jauh melebihi batas toleransi lanskap pegunungan curam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. DAS Garoga, yang merupakan aliran sungai terbesar kedua setelah DAS Batang Toru, menjadi lautan lumpur saat longsor di hulu meledak.
Puncaknya terjadi pada Selasa, 25 November sekitar pukul 11 siang, ketika banjir bandang menyapu desa dengan kecepatan mengerikan. Sungai Aik Garoga, yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan warga, berubah menjadi monster ganas.
Arus deras membawa serta ribuan ton tanah longsor, pohon-pohon tumbang, dan yang paling mematikan: gelondongan kayu berukuran raksasa—panjang hingga 10 meter dan diameter 1 meter—yang menghantam pemukiman seperti palu godam.
Desa Garoga, yang terletak di pulau kecil sepanjang 1.170 meter di tengah sungai, menjadi sasaran utama. Setengah dari 270 KK di desa ini bermukim di pulau tersebut, di mana mereka berkebun, bersawah, dan membangun rumah panggung dari kayu. Dalam hitungan menit, dua jembatan penghubung—Garoga 1 dan Garoga 2—putus, memutus akses darurat. Warga yang sempat evakuasi diri ke lereng bukit hanya bisa menyaksikan rumah mereka lenyap ditelan arus.

Dampak yang Menghancurkan: Kehilangan Rumah, Lahan, dan Harapan
Tragedi ini merenggut lebih dari sekadar bangunan fisik. Sekitar 140 rumah warga, termasuk masjid, sekolah, dan sawah subur, terkubur total di bawah lapisan lumpur setebal beberapa meter. Gelondongan kayu, yang berserakan di sepanjang sungai dan pantai terdekat, menjadi simbol kehancuran—beberapa di antaranya masih utuh dengan bekas potongan chainsaw yang mencurigakan.
Warga, yang mayoritas petani dan nelayan subsisten, kehilangan sumber penghidupan utama. Lahan pertanian yang menjadi andalan kini jadi lautan lumpur, sementara ternak dan peralatan rumah tangga lenyap tanpa jejak.
Korban jiwa belum dirinci secara pasti untuk Desa Garoga saja, tapi bencana banjir-longsor di Tapanuli Selatan secara keseluruhan telah menewaskan puluhan orang dan menyisakan ratusan pengungsi. Tim TNI-Polri dan BPBD Sumut dikerahkan untuk evakuasi. Mesin alat berat meraung membersihkan material, tapi proses pemulihan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
Faktor Pemicu: Alam yang ‘Dibantu’ Tangan Manusia
Penyebab utama? Kombinasi alam dan ulah manusia. Curah hujan ekstrem dipicu perubahan iklim, tapi topografi curam hulu DAS Garoga membuat longsor tak terelakkan. Yang lebih gelap: dugaan pembalakan liar dan pembukaan lahan sawit ilegal di hulu sungai.
Menteri Hanif menyebut satu perusahaan sawit membuka lahan hingga 200 hektare, berkontribusi pada erosi tanah dan aliran permukaan yang deras. Kayu-kayu gelondongan itu—sebagian dengan bekas gergaji mesin—diduga berasal dari land clearing ilegal, yang mengubah banjir biasa menjadi senjata pemusnah massal.
Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri tak tinggal diam. Pada 8 Desember, mereka menyita 27 sampel kayu untuk analisis forensik, mengidentifikasi jenis: hasil gergajian, dicabut alat berat, longsor alami, dan pengangkutan loader.
Pemeriksaan terhadap PT TBS—perusahaan di hulu sungai—dilakukan pada 9 Desember, termasuk kades dan saksi kunci. KLHK juga berjanji evaluasi izin lingkungan untuk 8 perusahaan di sekitar DAS Batang Toru.