Bencana terkait air menelan hampir 5.000 korban jiwa, memaksa sekitar 8 juta orang mengungsi, serta memicu kerugian ekonomi global lebih dari US$360 miliar sepanjang 2025. Temuan ini diungkap dalam laporan internasional terbaru yang mengaitkan lonjakan bencana tersebut dengan siklus air global yang kian tidak stabil akibat pemanasan yang berlangsung cepat.
Laporan 2025 Global Water Monitor Report yang dirilis Minggu ini disusun oleh tim peneliti yang dipimpin Albert van Dijk dari Fenner School of Environment and Society, The Australian National University.
Studi tersebut memaparkan bagaimana perubahan curah hujan, meningkatnya kelembaban atmosfer, serta suhu yang terus naik saling berinteraksi dan memperkuat dampak banjir, kekeringan, hingga gelombang panas ekstrem di berbagai belahan dunia.
Perubahan Iklim Ekstrem Kian Intens
Laporan ini menyoroti fenomena yang disebut ilmuwan sebagai climate whiplash—perubahan cepat dan ekstrem antara kondisi basah dan kering—yang memberi tekanan luar biasa pada sistem air, ekosistem, serta infrastruktur.
“Pada 2025, banjir, kekeringan, dan bahaya terkait panas berulang kali melanda wilayah yang sama secara berurutan, sehingga dampaknya saling memperparah,” ujar Van Dijk.
Fenomena tersebut tampak jelas di Spanyol dan Portugal. Musim semi yang jauh lebih basah dari normal memicu pertumbuhan vegetasi yang pesat, sebelum disusul gelombang panas mendadak dan kekeringan kilat yang mengeringkan tanah dengan cepat.
Kondisi ini berkontribusi pada kebakaran hutan terparah dalam 30 tahun terakhir di Semenanjung Iberia. Sepanjang 2025, lebih dari 1 persen wilayah semenanjung itu terbakar, dengan risiko kebakaran tercatat 40 kali lebih besar akibat perubahan iklim.
Secara global, suhu daratan pada 2025 hanya sedikit lebih rendah dibanding rekor 2024, menjadikan tiga tahun terakhir sebagai periode terpanas dalam sejarah pencatatan. Di Eropa, gelombang panas musim panas yang berkepanjangan dikaitkan dengan perkiraan 16.500 kematian tambahan akibat perubahan iklim di 854 kota.
Australia Dihantam Dua Ekstrem Sekaligus
Temuan laporan ini tercermin nyata di Australia. Ratusan kebakaran hutan melanda negara bagian Victoria di tengah gelombang panas ekstrem yang mendorong suhu melampaui 40 derajat Celsius.
Lebih dari 860.000 hektar lahan hangus terbakar, dengan setidaknya satu korban jiwa terkonfirmasi. Pemerintah negara bagian menetapkan status bencana di 18 wilayah pemerintahan lokal.
Pada saat bersamaan, bekas Siklon Tropis Koji menghantam Queensland utara, membawa hujan sangat lebat. Beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 290 milimeter hanya dalam enam jam, memicu banjir bandang dan memutus aliran listrik ke ribuan rumah.
Laporan tersebut juga mencatat kejadian luapan danau glasial yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Himalaya, serta kemunculan siklon tropis langka di dekat khatulistiwa, termasuk di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa bahaya terkait air kini muncul di wilayah-wilayah yang sebelumnya jarang mengalaminya.