JAKARTA – Kurang dari 24 jam setelah kalah di final Piala Super Spanyol dari Barcelona, Real Madrid secara mengejutkan resmi berpisah dengan Xabi Alonso sebagai pelatih kepala melalui kesepakatan bersama kedua belah pihak.
Manajemen Los Blancos langsung menunjuk pelatih Castilla, Alvaro Arbeloa, sebagai pelatih sementara sembari menunggu keputusan apakah ia akan dipercaya hingga akhir musim atau hanya sebagai solusi darurat.
Pemecatan ini terasa mendadak karena performa Real Madrid dinilai masih kompetitif, termasuk saat menghadapi Barcelona, sehingga banyak pihak menilai waktu keputusan tersebut tidak lazim.
Namun jika menelusuri dinamika internal dalam 48 jam terakhir, muncul indikasi kuat bahwa satu keputusan krusial Alonso menjadi pemicu utama runtuhnya kepercayaan klub.
Performa Madrid sejatinya membaik usai kekalahan dari Barcelona dengan torehan lima kemenangan beruntun, termasuk kemenangan semifinal atas Atletico Madrid yang diraih tanpa permainan terbaik.
Sorotan utama tertuju pada keputusan Alonso terkait Kylian Mbappe yang tetap dibawa ke Jeddah meski sebelumnya dikabarkan belum sepenuhnya bugar.
Mbappe sempat menjalani tes kebugaran lanjutan di Madrid, dinyatakan siap sehari sebelum laga, dan masuk dalam skuad pertandingan final.
Meski demikian, penyerang asal Prancis itu hanya dimainkan selama 14 menit setelah baru masuk pada menit ke-76, keputusan yang memicu tanda tanya besar.
Fakta bahwa Mbappe menempuh perjalanan sejauh 6.703 kilometer hanya untuk tampil singkat dinilai sebagai sinyal buruk dalam manajemen pemain bintang.
Situasi semakin rumit setelah beredar cuplikan video yang memperlihatkan Mbappe diduga enggan melakukan guard of honor untuk Barcelona, sesuatu yang disebut-sebut diminta langsung oleh Alonso.
Jika benar terjadi, Alonso berarti bersitegang dengan dua figur sentral tim yakni Mbappe dan Vinicius Junior.
Vinicius sebelumnya juga sempat berselisih dengan Alonso pada El Clasico pertama musim ini saat ia meninggalkan lapangan dengan emosi setelah ditarik keluar.
Meski konflik tersebut sempat dianggap selesai, dua kejadian ini memunculkan kesan bahwa Alonso kesulitan mengendalikan ego besar di ruang ganti Real Madrid.
Kondisi tersebut diyakini membuat manajemen kehilangan keyakinan, sehingga keputusan berpisah dianggap sebagai langkah paling realistis demi stabilitas tim.
Pelatih anyar Real Madrid nantinya dituntut tidak hanya piawai secara taktik, tetapi juga tegas dan berwibawa dalam mengelola pemain bintang.***