JAKARTA – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan begadang atau kesulitan tidur pada malam hari dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association dan dilaporkan oleh Science Alert ini menganalisis pola tidur ratusan ribu orang selama lebih dari satu dekade.
Temuan menunjukkan bahwa masalah tidak hanya muncul akibat tidur larut, tetapi juga karena ketidaksesuaian antara ritme biologis tubuh dengan tuntutan kehidupan sehari-hari. Kelompok yang dikenal sebagai night owl—orang yang lebih aktif di malam hari—sering menghadapi gangguan tidur atau insomnia.
Studi yang dipimpin oleh Sina Kianersi dari Brigham and Women’s Hospital dan Harvard Medical School ini menggunakan data lebih dari 300.000 orang dewasa di UK Biobank. Sekitar 8 persen responden mengidentifikasi diri sebagai night owl, sementara sepertiga lainnya merupakan early bird yang terbiasa tidur lebih awal dan bangun pagi.
Selama pemantauan hingga 14 tahun, kelompok night owl tercatat memiliki risiko 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke pertama dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur normal. “Hal ini tidak berarti bahwa semua orang yang tidur larut malam akan mengalami penyakit,” jelas Kianersi. Menurutnya, tantangan utama terletak pada ketidakcocokan ritme biologis dengan jadwal harian yang membuat gaya hidup sehat sulit dijalani.
Ritme sirkadian tubuh berperan penting dalam mengatur tekanan darah, detak jantung, hormon stres, hingga metabolisme. Ketika individu yang aktif di malam hari dipaksa bangun pagi, tubuh mereka cenderung tidak optimal sehingga pola tidur menjadi tidak teratur dan risiko insomnia meningkat.
Begadang: Kebiasaan tidak Sehat
Kebiasaan tidak sehat seperti kurang tidur, pola makan buruk, dan merokok turut memperburuk kesehatan jantung. Kristen Knutson, ahli tidur dari Northwestern University yang tidak terlibat dalam penelitian, menekankan bahwa dampak ketidaksesuaian ritme biologis melampaui sekadar masalah tidur. Misalnya, sarapan besar di pagi hari bisa terasa berat bagi night owl karena tubuh mereka masih berada dalam “mode malam,” yang memengaruhi kadar gula darah dan metabolisme.
Meski demikian, para peneliti menegaskan risiko ini dapat diminimalisasi. Kianersi merekomendasikan langkah sederhana seperti berhenti merokok dan menjaga konsistensi waktu tidur serta bangun, meski durasi tidur belum mencapai tujuh jam. Temuan ini menegaskan bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan bagian krusial dari kesehatan jantung.