JAKARTA – Popularitas olahraga profesional di Korea menunjukkan tren positif. Musim bisbol tahun lalu berhasil menarik 12 juta penonton, menandai tonggak penting dalam perkembangan industri olahraga.
Fenomena ini juga merambah ke bola voli profesional, yang musim V-League tahun ini mencatat lonjakan penonton meski baru pertama kali digelar setelah pensiunnya bintang besar Kim Yeon-koung (38.)
Dilansir dari Naver, Selasa (17/2/2026), sejak akhir musim lalu, dunia voli bekerja sama membina generasi bintang baru. Lokakarya yang diikuti sekitar 200 peserta dari 14 tim V-League, media, wasit, hingga pakar olahraga, menghasilkan kesimpulan: “Para pemain harus fokus pada peningkatan keterampilan mereka, sementara para pejabat liga dan klub harus lebih proaktif dan ramah terhadap media.”
Salah satu sorotan musim ini adalah Jamyanpurep Enkhseryeol (Inkushi), outside hitter asal Mongolia yang direkrut Red Sparks pada Desember lalu. “Efek Inkushi” terbukti signifikan, dengan rata-rata kehadiran penonton meningkat sekitar 580 orang dan rating siaran menempatkan timnya pada tiga dari lima pertandingan wanita teratas. Popularitasnya bahkan menyaingi tim papan atas meski peringkat Red Sparks rendah.
Selain Inkush, Choi Seo-hyun (21) juga mencuri perhatian. Bintang muda ini berhasil menembus All-Star Game dan memiliki basis penggemar media sosial lebih dari 100.000 orang. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa narasi pertumbuhan pemain mampu menarik minat penonton, meski keterampilan belum sepenuhnya matang.
Namun, tantangan besar masih ada. Minimnya “pemasaran bintang” membuat eksposur pemain terbatas. Konten tim di YouTube kurang menjangkau publik, sementara liputan media masih fokus pada hasil pertandingan dan MVP. Penggemar menilai voli perlu meniru olahraga lain dengan menghadirkan lebih banyak wawancara, cerita personal, dan zona campuran agar penonton baru dapat lebih terhubung dengan para pemain.
Manajer V-League menegaskan perlunya perubahan budaya. “Penting bagi manajer dan klub untuk bekerja sama menciptakan budaya. Dan jika itu terjadi, para pemain perlu menyadari seberapa besar pengaruh kata-kata mereka sendiri,” ujarnya.