JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan akan terlibat secara tidak langsung dalam perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2026). Putaran kedua pembicaraan ini digelar di bawah mediasi Oman.
“Saya akan terlibat dalam pembicaraan itu secara tidak langsung, dan pembicaraan itu akan sangat penting,” kata Trump kepada wartawan, Senin (16/2/2026), dalam perjalanan menuju Washington, seperti dilansir Anadolu. “Kita lihat saja apa yang bisa terjadi,” tambahnya.
Trump menilai Iran sebagai pihak perunding yang tangguh, namun menekankan seharusnya kesepakatan bisa dicapai lebih awal. Ia bahkan merujuk pada serangan pesawat pembom siluman B-2 AS terhadap fasilitas nuklir Iran saat eskalasi konflik Iran–Israel pada Juni 2025. “Kita sebenarnya bisa saja mencapai kesepakatan daripada harus mengirim pesawat B-2 untuk menghancurkan potensi nuklir mereka. Kami harus mengirim B-2. Saya berharap mereka akan lebih masuk akal,” ujarnya.
Trump menegaskan bahwa Iran menginginkan kesepakatan. “Saya rasa mereka tidak menginginkan konsekuensi jika tidak ada kesepakatan. Mereka ingin membuat kesepakatan,” katanya.
Diplomasi nuklir tidak langsung antara AS dan Iran sebelumnya telah dimulai kembali di Muscat, Oman, pada 6 Februari lalu, setelah sempat terhenti selama hampir delapan bulan akibat serangan Israel yang memicu perang 12 hari.
Isu utama yang masih diperdebatkan adalah pengayaan uranium. Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi Barat sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas nuklirnya, sementara AS meminta penghentian total pengayaan uranium serta pemindahan cadangan yang telah diperkaya ke luar negeri. Washington juga ingin memperluas cakupan perundingan mencakup program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata, namun Teheran menegaskan hanya akan bernegosiasi terkait program nuklir.