JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran, dengan opsi langkah lebih besar jika diplomasi gagal. Laporan The New York Times pada Minggu (22/2/2026) waktu setempat, menyebut Trump telah memberi tahu para penasihatnya bahwa ia akan menimbang operasi militer skala luas dalam beberapa bulan ke depan apabila perundingan maupun serangan terbatas tidak menghentikan program nuklir Teheran.
Putaran baru pembicaraan AS–Iran dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa, dimediasi Oman, setelah pertemuan sebelumnya di Muscat (6 Februari) dan Jenewa (17 Februari). Negosiasi ini disebut sebagai upaya terakhir untuk mencegah konflik militer.
Menurut laporan yang dikutip Anadolu pada Selasa (24/2/2026), Trump cenderung meluncurkan serangan terarah dalam beberapa hari ke depan untuk memberi sinyal kepada Iran. Target potensial mencakup markas Korps Garda Revolusi Islam, fasilitas nuklir, serta infrastruktur rudal balistik. Jika langkah ini gagal, Trump disebut mempertimbangkan operasi militer lebih besar dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.
Namun sejumlah pejabat meragukan efektivitas serangan udara semata. Opsi operasi khusus terhadap fasilitas nuklir yang diperkuat dilaporkan telah dikesampingkan karena risiko tinggi. Gedung Putih menolak berkomentar, dengan juru bicara Anna Kelly menegaskan hanya Trump yang mengetahui langkah apa yang akan diambil.
Di sisi lain, kedua pihak disebut membahas proposal kompromi yang memungkinkan Iran mempertahankan pengayaan uranium terbatas untuk riset dan medis. Meski demikian, belum jelas apakah Washington atau Teheran akan menerima skema tersebut. Trump secara terbuka menegaskan setiap kesepakatan harus menghasilkan “nol pengayaan,” sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan hak Iran di bawah Traktat Nonproliferasi Nuklir.
Situasi ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. Data pelacakan menunjukkan dua kelompok kapal induk, jet tempur, pembom, dan pesawat pengisian bahan bakar telah dikerahkan dalam jangkauan Iran. Diskusi mengenai opsi serangan dilaporkan dilakukan di Ruang Situasi Gedung Putih pekan lalu, dihadiri Wakil Presiden JD Vance, Menlu Marco Rubio, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, serta Direktur CIA John Ratcliffe.