Menghadapi ancaman resesi demografi yang kian nyata, Pemerintah Singapura mengambil langkah berani. Dalam lima tahun ke depan, Negeri Singa ini berencana menyerap hingga 30.000 warga negara baru setiap tahunnya. Kebijakan ini merupakan respon langsung terhadap angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) yang terus merosot.
Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menegaskan bahwa penyesuaian kuota imigrasi ini adalah instrumen vital untuk menjaga stabilitas populasi dan produktivitas ekonomi nasional.
Sepanjang tahun lalu, Singapura telah memberikan kewarganegaraan kepada sekitar 25.000 orang. Namun, mulai tahun ini hingga 2030, angka tersebut akan ditingkatkan ke kisaran 25.000 hingga 30.000 orang per tahun.
“Kami akan melakukan penyesuaian berdasarkan tren demografi, termasuk angka kelahiran,” ujar Gan Kim Yong dalam debat anggaran di Kantor Perdana Menteri, Jumat (27/2/2026).
Karpet Merah bagi ‘Permanent Resident’
Tak hanya kewarganegaraan penuh, jalur utama menuju status warga negara, yakni Permanent Resident (PR), juga turut dilonggarkan. Pemerintah Singapura memproyeksikan akan menerima sekitar 40.000 PR baru setiap tahun, angka yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 35.000 orang.
Saat ini, jumlah penduduk tetap Singapura relatif stabil di angka 540.000 orang. Penambahan kuota ini diharapkan dapat mengisi kekosongan tenaga kerja terampil dan menyegarkan struktur populasi yang kian menua.
Kualitas di Atas Kuantitas
Meski kuota ditingkatkan, Gan menegaskan bahwa Singapura tetap selektif. Penentuan jumlah imigran tidak hanya didasarkan pada angka, melainkan kualitas pelamar serta kapasitas infrastruktur negara.
“Pertumbuhan populasi warga negara kita terus melambat, dari 0,9% menjadi 0,7% tahun lalu, dan diperkirakan akan turun lagi ke angka 0,5%,” ungkap Gan.
Pemerintah menyadari bahwa sekadar mendatangkan orang baru tidaklah cukup. Kesiapan sosial masyarakat lokal dalam menerima pendatang juga menjadi pertimbangan utama. Bagi Singapura, imigrasi bukan sekadar menambah jumlah kepala, melainkan strategi bertahan hidup di tengah tantangan global yang kian kompleks.